Home Serba Serbi Tekno Judul: Pertarungan Baru di Jepang Tempo Dulu

Judul: Pertarungan Baru di Jepang Tempo Dulu

Sumbawanews.com,- Di tengah gemerlap Summer Game Fest tahun ini, Sega memperkenalkan Stranger Than Heaven—game baru dari RGG Studio yang menggoyang fondasi warisan Yakuza. Bukan sekadar lanjutan, ini adalah lompatan radikal: sebuah petualangan epik yang membentang selama lima dekade di Jepang pasca-perang, dengan sistem pertarungan yang sama sekali baru, tanpa jejak button-mashing yang dulu menghiasi kisah Kiryu.

Dalam demo eksklusif yang saya coba, saya memasuki salah satu dari lima kota dan era yang akan dilalui protagonis, Daigo—seorang mantan anggota yakuza yang terjebak dalam perjalanan waktu dan kekerasan. Sistem pertarungannya dirancang dengan presisi hampir seperti seni bela diri: setiap serangan dibagi menjadi sisi kiri dan kanan tubuh. Tombol LB dan LT mengendalikan tangan dan kaki kiri, sementara RB dan RT menggerakkan sisi kanan. Tekan dan tahan, maka serangan menjadi lebih berat, lebih mematikan. Kombinasi LT dan RT membuka gerakan grapple—menghantam lawan ke meja, menjatuhkannya ke tangga, atau menekannya ke lantai untuk menerjangnya dengan pukulan beruntun. Ini bukan pertarungan ala Yakuza yang penuh aksi kocak; ini lebih mirip perang jalanan yang brutal, penuh bobot, dan membutuhkan ketepatan.

Senjata bukan lagi aksesori—mereka menjadi inti dari pertarungan. Daigo akan mengumpulkan pisau, palu, bahkan senjata unik yang mungkin baru ditemukan di era 1960-an. Beberapa di antaranya memiliki serangan khusus yang hanya bisa dilancarkan saat lawan sudah terjatuh. Dalam satu bab, saya memegang crowbar berat yang bergerak lambat, memaksa saya berpikir ulang setiap serangan. Tidak ada lagi serangan otomatis yang menghancurkan lawan dalam hitungan detik. Setiap pukulan harus direncanakan.

Puncaknya datang saat menghadapi seorang lawan bertato, telanjang dada, memegang katana di jalan-jalan Osaka. Ia tidak hanya tangguh—ia cerdas. Ia akan berjongkok, menggoda Anda mendekat, lalu menyambar dengan kecepatan kilat. Parry sempurna adalah kunci. Dodging pun harus tepat waktu. Saat ia terjatuh, Anda harus segera menyerang—jika tidak, ia akan pulih sendiri. Saya menang bukan karena keahlian, tapi karena keberuntungan. Dan itu justru membuatnya terasa lebih nyata.

Saya rindu pada kegilaan khas Yakuza: menghantam mafia ke microwave, atau berkelahi di atap kereta yang sedang bergerak. Sega mengisyaratkan bahwa adegan-adegan semacam itu akan muncul di versi penuh. Tapi yang lebih penting: apakah kehangatan humor dan keanehan emosional yang dulu membuat Yakuza begitu istimewa akan tetap hidup di sini? Demo ini lebih serius, lebih gelap, lebih berat. Tapi justru di situlah tantangannya.

Stranger Than Heaven bukan sekadar game pertarungan baru. Ia adalah pernyataan: RGG Studio tidak ingin mengulang dirinya sendiri. Ia ingin menguji batas. Dan jika ia bisa menjaga keseimbangan antara kebrutalan sistem pertarungan dan jiwa khas Jepang yang penuh ironi, maka ini bisa jadi karya paling berani mereka sejak awal.

Game ini rencananya tayang 15 Januari 2027 di PS5, Xbox Series X|S, dan PC via Steam.

Previous articleGARDA SATU NTB Ancam Surati Presiden RI, Bang Akim: Jangan Biarkan Tambang Ilegal Menggerogoti Sumbawa
Next articleJakarta Fair 2027 Ditargetkan Tembus Rp9 Triliun
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.