Sumbawanews.com,- Universitas Gadjah Mada kembali membuktikan kemampuannya di panggung global. Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM berhasil masuk jajaran 100 besar dunia dalam peringkat World University Rankings for Innovation (WURI) 2026, mengalahkan lebih dari 13.200 program inovasi dari 1.927 universitas di 96 negara.
Bukan sekadar masuk daftar, FKG UGM bahkan meraih dua gelar tertinggi dalam kategori *Representative Research Project*: pertama untuk inovasi *Dental Silkbon*—bahan pengikat gigi berbasis serat sutra lokal—dan kedua untuk *Financial Impact-Driven Technology Transfer* melalui pasta gigi *Propasdent*. Keduanya menjadi bukti nyata bahwa solusi kesehatan berbasis kearifan lokal mampu bersaing dengan produk impor yang selama ini mendominasi pasar global.
Dekan FKG UGM, Suryono, menyebut pencapaian ini bukan keberuntungan, melainkan hasil dari kerja sistematis selama bertahun-tahun. “Banyak kampus punya inovasi hebat, tapi gagal dikenal karena tak mampu membangun narasi global. Kami tidak hanya menciptakan produk, tapi juga memastikan dunia tahu,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Prestasi ini melengkapi catatan sebelumnya: pada 2024, FKG UGM pernah menempati peringkat enam dunia dalam kategori *Entrepreneurial Spirit*, mengungguli sejumlah universitas ternama di Eropa dan Amerika Serikat. Kini, dengan dua gelar juara dunia dalam WURI 2026, FKG UGM menjadi satu-satunya fakultas di Indonesia yang mampu menembus elite inovasi global sekaligus meraih posisi teratas dalam dua kategori sekaligus.
*Dental Silkbon*, yang terbuat dari serat sutra alami, dirancang untuk menggantikan bahan sintetis dalam perawatan gigi goyah dan gigi tiruan. Sementara *Propasdent* mengusung pendekatan revolusioner: bukan membunuh semua bakteri di rongga mulut, tapi menjaga keseimbangan mikroflora—prinsip yang sejalan dengan tren kedokteran modern yang menghindari penggunaan antibiotik berlebihan.
“Kami tidak mengejar bahan impor mahal. Kami mengejar solusi yang tepat guna, berkelanjutan, dan berakar pada sumber daya kita sendiri,” kata Suryono. “Dengan bahan lokal, kita bisa menciptakan produk yang tidak hanya murah, tapi juga lebih cerdas.”
Ke depan, FKG UGM berencana memperkuat hilirisasi riset melalui unit khusus yang akan menghubungkan peneliti dengan industri dan pasar. Tujuannya jelas: mengubah temuan laboratorium menjadi produk yang menggerakkan ekonomi, bukan hanya menjadi catatan akademik.
Bagi FKG UGM, peringkat 100 besar bukanlah akhir perjalanan. Ini adalah tanda bahwa sebuah fakultas dari Indonesia—dengan sumber daya lokal, semangat inovatif, dan keteguhan pada keberlanjutan—mampu menyaingi raksasa pendidikan dunia. Bukan karena mengikuti tren, tapi karena menciptakan tren baru: inovasi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, dan dibangun dari tanah sendiri.















