Sumbawanews.com,- Hamburg, Jerman — Superkomputer LineShine buatan China resmi menduduki puncak peringkat TOP500 sebagai mesin komputasi tercepat di dunia, menggeser El Capitan milik Amerika Serikat yang selama 18 bulan terakhir memimpin klasemen. Pencapaian ini diumumkan pada Konferensi Superkomputer Internasional di Hamburg, Jerman, pada 23 Juni 2026, sekaligus menandai kembalinya China ke posisi teratas setelah lebih dari delapan tahun.
Dirancang oleh Pusat Superkomputer Nasional di Shenzhen, LineShine mampu menjalankan 2,2 kuintiliun operasi per detik — atau 2,2 exaFLOPS — unggul lebih dari 20% dibanding El Capitan yang berbasis di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore. Rekor ini bukan sekadar soal kecepatan, tapi juga kecerdikan teknis: LineShine mencapai level exascale murni menggunakan unit pemrosesan pusat (CPU) standar, tanpa bantuan unit pemrosesan grafis (GPU) yang selama ini menjadi andalan sistem-sistem superkomputer global, termasuk milik AS.
“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah superkomputasi, sebuah sistem murni CPU mencapai exascale,” ujar Jack Dongarra, pendiri TOP500 dan peraih Penghargaan Turing, dalam wawancara dengan *South China Morning Post*. “Ini membuktikan bahwa China tidak hanya mengejar, tapi juga menciptakan jalur alternatif yang lebih efisien.”
Pencapaian ini datang di tengah tekanan geopolitik ketat. Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump telah memberlakukan larangan ekspor chip canggih ke China sejak 2022, dengan tujuan memperlambat kemajuan teknologi Beijing. Namun, LineShine justru menjadi bukti bahwa China mampu berinovasi di luar ketergantungan pada teknologi Barat — bahkan melampaui batas yang dianggap tak terjangkau.
Dengan kemampuan memproses data secepat itu, LineShine akan digunakan untuk misi-misi ilmiah paling ambisius: simulasi iklim global, pemodelan kompleksitas otak manusia, pengembangan obat baru, dan kriptografi tingkat tinggi. Di balik layar, sistem ini juga menjadi simbol pergeseran kekuatan teknologi global — di mana inovasi tidak lagi monopoli satu negara, tapi hasil dari ketahanan strategis dan investasi jangka panjang.
Sementara AS dan sekutunya terus berlomba membangun sistem berbasis GPU untuk kebutuhan kecerdasan buatan, China menunjukkan bahwa keunggulan komputasi bisa diraih lewat pendekatan berbeda: fokus pada efisiensi arsitektur, bukan hanya kekuatan komponen. Dengan LineShine, bukan hanya rekor yang dipecahkan — tapi paradigma baru dalam balapan teknologi dunia.















