Sumbawanews.com,- Pertandingan sengit antara Inggris dan Ghana yang berakhir 0-0 di Boston Stadium, Rabu (24/6/2026), tak hanya mencatatkan hasil imbang yang memperketat persaingan di Grup L Piala Dunia 2026, tetapi juga memicu gelombang protes dari tim nasional Paraguay. Pasalnya, bintang Real Madrid, Jude Bellingham, lolos dari kartu merah dalam insiden yang dinilai jelas melanggar aturan baru FIFA—namun wasit memilih tidak memberikan sanksi.
Insiden itu terjadi saat Bellingham, dalam sebuah konfrontasi dengan pemain Ghana, menutup mulutnya dengan tangan saat berhadapan langsung dengan lawan. Tindakan tersebut jelas-jelas termasuk dalam kategori pelanggaran yang diatur dalam regulasi baru FIFA untuk Piala Dunia 2026: pemain yang menutup mulut dalam situasi konfrontasi akan langsung dikenai kartu merah. Aturan ini diterapkan sebagai respons terhadap kasus rasisme Gianluca Prestianni terhadap Vinicius Junior di Liga Champions musim lalu, yang berujung pada sanksi enam pertandingan.
Sebelumnya, Miguel Almiron dari Paraguay menjadi pemain pertama yang diusir karena melanggar aturan serupa saat melawan Turki—sebuah keputusan yang langsung memicu kemarahan publik dan bahkan membuat seorang komentator lokal dikenai sanksi oleh FIFA. Kini, dengan Bellingham yang tampak melakukan tindakan identik namun tidak dihukum, pihak Paraguay merasa ada ketidakadilan sistemik.
Kementerian Olahraga Paraguay langsung mengirimkan surat resmi ke FIFA, meminta klarifikasi dan peninjauan ulang terhadap keputusan wasit. “Jika aturan berlaku untuk semua, maka harus diterapkan secara konsisten. Kami tidak menuntut sanksi tambahan untuk Inggris, tapi kami meminta keadilan prosedural,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari sumber dalam federasi sepak bola Paraguay.
Sementara itu, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) membela Bellingham, menyatakan bahwa insiden tersebut “bukan bentuk provokasi rasial, melainkan reaksi emosional spontan dalam tekanan pertandingan.” Namun, para analis teknis dan mantan wasit internasional menilai bahwa argumen itu tidak cukup untuk mengabaikan aturan yang jelas dan telah disosialisasikan sejak awal turnamen.
Kontroversi ini semakin memperdalam perdebatan global tentang konsistensi penerapan aturan di level tertinggi sepak bola. Banyak pihak mulai bertanya: apakah keputusan wasit dipengaruhi oleh reputasi pemain, atau apakah sistem VAR gagal berfungsi sebagai penjaga keadilan?
Dengan Inggris tetap memimpin klasemen Grup L setelah menang 4-2 atas Kroasia dan bermain imbang melawan Ghana, sementara Paraguay berada di posisi ketiga dengan satu kemenangan dan satu kekalahan, keputusan wasit dalam laga ini bisa berdampak besar pada nasib tim-tim yang berjuang untuk lolos ke babak 32 besar.
FIFA hingga kini belum memberikan tanggapan resmi, tetapi tekanan internasional terus meningkat. Bagi Paraguay, ini bukan hanya soal satu kartu merah—tapi soal integritas aturan yang harus sama untuk semua, tanpa pandang bulu.















