Sumbawanews.com,- Di tengah krisis pasokan memori global yang mendorong harga RAM melonjak, Apple meminta izin resmi dari pemerintah Amerika Serikat untuk membeli chip RAM dari ChangXin Memory Technologies (CXMT), pemasok asal China yang berada dalam daftar pengawasan Pentagon. Permintaan ini diajukan lebih dari sebulan lalu, setelah perusahaan menemukan kesulitan memperoleh komponen kritis dengan harga yang terjangkau tanpa mengorbankan kinerja produk.
CXMT, yang masuk dalam daftar “Chinese Military Company List” (1260H), dituduh memiliki keterkaitan dengan militer Tiongkok. Jika Apple menggunakan chip dari perusahaan ini, produknya berisiko dilarang untuk dijual ke instansi pemerintah AS, termasuk Departemen Pertahanan. Ini berarti Apple bisa kehilangan kontrak senilai miliaran dolar yang berasal dari sektor keamanan nasional — sebuah risiko politik yang jauh lebih berat daripada tekanan biaya produksi.
Pemerintah AS sebelumnya mempertimbangkan untuk memasukkan CXMT ke dalam Entity List, yang akan melarang seluruh perusahaan Amerika melakukan transaksi dengannya. Namun, keputusan itu ditunda pada 2025 karena upaya diplomasi perdagangan dengan Tiongkok. Kini, status CXMT tetap rapuh — dan keputusan Apple untuk memanfaatkannya bisa memicu gelombang kritik dari Kongres AS. Ketua Komite China di Dewan Perwakilan Rakyat, John Moolenaar, memperingatkan bahwa kerja sama ini bisa memperdalam ketergantungan teknologi AS pada rantai pasok Tiongkok, sekaligus memperkuat posisi Beijing di sektor strategis.
Langkah ini bukan yang pertama kali Apple berhadapan dengan dilema geopolitik. Pada 2022, perusahaan sempat mempertimbangkan pembelian chip dari YMTC untuk pasar Tiongkok — sebuah keputusan yang langsung dikecam oleh Senator Marco Rubio, yang kini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS. Rubio menyebut tindakan itu sebagai “bermain dengan api,” sebuah peringatan yang kini kembali relevan.
Sementara itu, tekanan harga memori telah memaksa Apple mengambil keputusan langka: menaikkan harga sebagian besar perangkat Mac dan produk lainnya mulai 26 Juni 2026. MacBook Air 13 inci naik USD 200 menjadi USD 1.299, MacBook Pro 14 inci naik USD 300 menjadi USD 1.999, dan MacBook Pro 16 inci mengalami kenaikan paling tajam — USD 500 hingga USD 2.999. Kenaikan ini merupakan respons langsung terhadap lonjakan biaya komponen RAM, yang telah memperketat ruang gerak perusahaan dalam menjaga margin keuntungan.
Namun, iPhone tetap tidak terkena dampak kenaikan harga — sebuah sinyal bahwa Apple masih mengutamakan pangsa pasar konsumen global. AirPods, Apple Pencil, dan Studio Display pun tetap dijual dengan harga lama, menunjukkan strategi selektif perusahaan dalam menyalurkan beban biaya.
Dengan keputusan ini, Apple berada di persimpangan: antara kebutuhan bisnis untuk mempertahankan profitabilitas dan tekanan geopolitik yang bisa mengancam keberlanjutan pasar utamanya di Amerika Serikat. Bila pemerintah AS memberi lampu hijau, Apple bisa menghindari kenaikan harga lebih besar — tapi sekaligus membuka diri terhadap risiko politik yang mungkin sulit dipulihkan.















