Sumbawa Besar, sumbawanews.com – Universitas Samawa (UNSA), mengelar bedah buku karangan Poetra Adi Soerjo yang berjudul Pulau Sumbawa dan Penduduknya Tahun 1907 yang diterjemahkan dari karangan Johan Ernst Jasper, Kamis (14/05). Bedah buku tersebut menghadirkan antara lain Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat Kementerian Kehutanan RI, Julmansyah S.Hut., MAP. Akandemisi dan Peneliti UNRAM, Dr. Burhanuddin M.Hum., dan Ketua Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Dr.M. Ikhsan Safitri, M.SI.
Usai bedah buku, Poetra Adi Soerjo mengapresiasi dan berterima kasih kepada Universitas Samawa yang telah memfasilitasi bedah buku tersebut. Sebab diantara banyak buku yang telah diterbitkannya, UNSA memiliki inisiatif untuk menyebarkan bukunya.
Baca Juga: Bank Indonesia NTB Beri Kuliah Umum di Universitas Samawa
“Saya sudah banyak menulis buku, tapi yang punya inisiatif menspreading ini Alhamdulillah UNSA,” kata Uztads Suryo, sapaanya.
Ia mengungkapkan dalam buku tersebut, terdapat banyak catatan masa lalu yang penting untuk diketahui oleh masyarakat sumbawa. Sebagai dialog diri antara kita hari ini dengan kita di masa lalu.
“Itu penting untuk melihat kemana Kompas kedepan,” ucapnya, juga menambahkan, dirinya sebagai penerjemah tidak berada dalam posisi membantah atau membela isi dari tulisan Johan Ernst Jasper.
Di tempat yang sama, Wakil Rektor II UNSA, Muhammad Yamin mengaku bangga dengan ekseistensi Poetra Adi Soerjo sebagai putra sumbawa yang mampu mengumpulkan serpihan cerita Sejarah yang berkaitan dengan Sumbawa. Sebab selama ini masyarakat sumbawa kerap kekurangan dasar yang kuat terkait dengan catatan dan Sejarah Sumbawa.
“Dari situlah kita coba mentransformasikan informasi ini lebih luas ke masyarakat. Sehingga kami mengadakan bedah buku,” katanya.
Dan buku-buku tetang catatan Sejarah, seyogyanya yang akan menjaga Sumbawa kedean. Dan buku ini bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tapi juga tentang masa kini dan masa depan Sumbawa.
“Karena bukti administrative Sejarah itu, bisa menjadikan bukti otentik konflik social maupun agrarian yang terjadi di masa lalu,” kata dia.
Sebagai akademisi ia hargai upaya catatan tersebut. Terlebih Johan Ernst Jasper sebagai orang luar yang mampu menceritakan dan mendokumentasikan tentang kondisi social ekonomi, social politik yang ada didalam masyarakat Sumbawa.
“Dan ini mungkin Pelajaran bagi kita agar kita membiasakan diri mendokumentasikan sesuatu secara tekstual. Ini secara akademik luar biasa,” ucapnya.
Diungkapkan, dalam waktu dekat, UNSA akan Kembali melakukan bedah buku. “Mungkin kedua akan lebih sempurna belajar dari yang pertama. Tapi pada prinsipnya kami adakan ini agar Sejarah mampu bertransfromasi dan terdokumentasi secara administrative,” tegasnya.
Pada sampul belakang buku tersebut dituliskan, menerjemahkan J.E. Jasper bukan sekadar upaya alih bahasa, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk merajut dialog dengan masa lalu. Bagi M saya, menghadirkan kembali catatan sejarah local, khususnya mengenai Pulau Sumbawa, adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Hal itu lahir dari keyakinan bahwa sejarah lokal yang terpendam layak disapa ulang oleh generasi masa kini, agar kita sebagai masyarakat dapat melakukan solilokui: semacam percakapan batin dengan para pendahulu tentang siapa diri kita dan dari mana asal-usul sosial-budaya kita. Dengan membaca ulang karya Jasper yang berusia lebih dari seabad ini, kita diajak berdialog dengan masa silam, merenungi pengalaman kolektif leluhur, dan mungkin menemukan cermin bagi kehidupan masa kini.
Pulau Sumbawa pada awal abad ke-20 barangkali terasa jauh dari hiruk-pikuk sejarah “besar” nusantara. Namun, melalui kacamata Jasper, pulau ini menjelma lauskap kaya cerita tentang adat istiadat, struktur kerajaan lokal, kepercayaan, hingga detail keseharian penduduk. Sebagai penerjemah, ketertarikan saya tumbuh seiring kesadaran bahwa dokumentasi semacam ini sangat langka. Banyak catatan kolonial yang berfokus pada pusat kekuasaan Jawa atau Sumatra, sedangkan daerah seperti Sumbawa jarang mendapat sorotan mendalam. Karena itu, menerjemahkan karya Jasper menjadi semacam ziarah intelektual bagi saya pribadi sebuah upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif lokal yang nyaris terlupakan, dan mengundang pembaca untuk ikut berdialog dengan masa lalu demi memahami jati diri budaya kita. (Using)











