Home Berita Opini Dari Sampah, Kopi, sampai Pilkades

Dari Sampah, Kopi, sampai Pilkades

Oleh : Alimuddin

Sore itu saya sedang berdiskusi dengan kawan-kawan BUMDes sebuah desa tetangga. Topiknya sebenarnya sederhana: sampah.

Tetapi seperti biasa, kalau sudah bicara sampah, persoalannya jarang sesederhana sampah.

Kami sedang membicarakan rencana kerja sama pengelolaan sampah yang lebih berkeadilan. Selama ini pola yang berjalan masih seperti kebanyakan tempat: jemput, angkut, buang.

Sampah diambil dari rumah, dimasukkan ke kendaraan, dibawa pergi, lalu selesai.

Setidaknya begitu anggapan kita selama bertahun-tahun.

Padahal sebenarnya belum selesai. Sampah hanya berpindah tempat.

Kawan-kawan BUMDes itu rupanya juga mulai merasa bahwa pola lama perlu sedikit diubah. Tidak harus langsung menjadi sesuatu yang besar dan rumit. Mungkin cukup dimulai dari hal sederhana: sampah dipilah dari sumbernya.

Yang organik dipisahkan. Yang plastik dipisahkan. Yang masih punya nilai ekonomi jangan buru-buru dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang.

Saya kira, perubahan memang sering kali bermula dari sesuatu yang sederhana.

Bukan dari gedung besar.

Bukan dari program yang namanya panjang.

Kadang hanya dari kebiasaan baru: memisahkan sampah sebelum memasukkannya ke kantong.

Selepas diskusi, ketika pembicaraan mulai melebar ke mana-mana, telepon masuk.

Seorang kawan mengajak bertemu. Katanya ingin berdiskusi.

Ya sudah.

Diskusi pertama tadi berlangsung di kantor desa. Diskusi berikutnya akhirnya pindah lokasi.

Ke pinggir pantai.

Ada kopi hangat di tangan. Angin laut sesekali lewat. Pembicaraan pun berubah dari soal sampah menjadi soal desa, masa depan, dan akhirnya—entah bagaimana mulanya—sampai pada Pilkades.

Maklum.

Pemilihan Kepala Desa Benete sebentar lagi.

Di titik ini saya kembali berpikir: ternyata antara sampah dan politik desa ada satu kesamaan.

Keduanya sama-sama membutuhkan tata kelola.

Bedanya, kalau sampah salah kelola, yang menumpuk adalah sampah.

Kalau desa salah kelola, yang menumpuk bisa lebih banyak: persoalan, kekecewaan, utang pembangunan, dan mungkin juga pekerjaan rumah yang diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya.

Karena itu, menjelang Pilkades, saya kira yang perlu kita bicarakan bukan hanya siapa yang paling banyak memasang baliho.

Bukan pula siapa yang paling ramai dibicarakan di warung kopi.

Tetapi: desa seperti apa yang ingin kita bangun?

Benete adalah desa yang terus bergerak.

Anak-anak mudanya tumbuh dengan tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Teknologi berubah. Ekonomi berubah. Persoalan lingkungan berubah. Cara orang bekerja berubah.

Maka menurut saya, sudah waktunya kita memberi ruang lebih besar kepada jiwa-jiwa muda yang memiliki gagasan, keberanian, dan kemampuan untuk memimpin.

Bukan berarti generasi tua harus ditinggalkan.

Justru sebaliknya.

Generasi tua memiliki pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan pendidikan apa pun. Mereka pernah melewati masa-masa sulit, tahu bagaimana desa ini tumbuh, tahu siapa yang pernah berjuang, dan tahu kesalahan apa yang sebaiknya tidak diulang.

Tetapi pengalaman tidak selalu harus berada di kursi pengemudi.

Ada waktunya pengalaman menjadi kompas.

Ada waktunya generasi muda memegang kemudi.

Yang tua menjadi penasehat. Yang muda bergerak menjalankan perubahan.

Bukan karena yang muda selalu lebih pintar.

Tetapi karena setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.

Dan setiap generasi seharusnya mendapatkan kesempatan untuk ikut menentukan masa depannya.

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya sampah dengan Pilkades?

Bagi saya, ada.

Mengurus sampah mengajarkan satu hal penting: jangan hanya memindahkan masalah.

Dan prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam mengurus desa.

Jangan sekadar mengganti orang, tetapi mempertahankan cara kerja yang sama.

Jangan sekadar mengganti pemimpin, tetapi membawa pola lama ke dalam kepemimpinan yang baru.

Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memperbaiki cara.

Dari jemput-angkut-buang menjadi jemput-pilah-olah.

Dari sekadar menjalankan rutinitas menjadi membangun tata kelola.

Dari menunggu program menjadi menciptakan gagasan.

Dan mungkin, dari generasi ke generasi, desa juga perlu melakukan hal yang sama: memperbarui cara berpikir tanpa kehilangan ingatan tentang masa lalu.

Pilkades bukan sekadar pergantian kepala desa.

Ia adalah kesempatan bagi masyarakat untuk mengatakan: ke mana desa ini hendak dibawa?

Karena itu, jangan Golput.

Datanglah ke tempat pemungutan suara.

Gunakan hak pilih.

Pilih berdasarkan pertimbangan, rekam jejak, gagasan, kemampuan, dan integritas. Bukan semata karena hubungan keluarga, kedekatan, atau karena ikut-ikutan.

Siapa pun yang nanti terpilih, semoga ia mampu melihat desa bukan sebagai milik kelompoknya, melainkan sebagai rumah bersama.

Dan semoga setelah pesta demokrasi selesai, kita tidak kembali menjadi orang-orang yang hanya pandai mengeluh.

Sebab desa tidak akan berubah hanya karena kita menemukan pemimpin baru.

Desa berubah ketika pemimpin yang baik bertemu dengan masyarakat yang mau bergerak.

Sore itu kopi kami mungkin sudah dingin.

Tetapi satu hal justru terasa semakin hangat:

bahwa membicarakan masa depan desa tidak harus selalu dimulai dari ruang rapat.

Kadang cukup dari percakapan sederhana, di pinggir pantai, ditemani secangkir kopi.

Dan dari sana kita mulai bertanya:

Benete ingin menjadi desa seperti apa lima atau sepuluh tahun ke depan?

Jawabannya tentu tidak akan datang dari satu orang.

Jawabannya akan ditentukan oleh kita semua.

Previous articlePersib Bandung Hadapi Tiga Laga Tandang Beruntun di Awal Musim, Igor Tolic: Kami Pasrah
Next articleBintang/Sofyan Berjuang Raih Tiket Olimpiade LA 2028 di China
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik