Sumbawanews.com,- Satu dekade lalu, Lionel Messi mengumumkan pensiun dari tim nasional Argentina dalam keadaan hancur. Kekalahan dari Chile di final Copa América 2016 menjadi puncak kekecewaan: empat final yang gagal diraih dalam sembilan tahun, penalti yang gagal dieksekusi, dan air mata yang tak terbendung. “Saya sudah memberikan segalanya. Tim nasional sudah selesai,” ujarnya dengan suara serak, seolah menutup babak terakhir karier internasionalnya.
Tapi dunia sepak bola tak pernah menyangka bahwa kata-kata itu hanyalah titik balik, bukan akhir cerita.
Kembali ke lapangan tak hanya menjadi keputusan pribadi—ia menjadi sejarah. Messi membatalkan pensiunnya, memilih untuk tetap berjuang, bukan untuk menghapus luka, tapi untuk mengubahnya menjadi legenda. Dan hari ini, di usia 39 tahun, ia bukan sekadar kapten tim juara bertahan. Ia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Pada laga melawan Austria di Piala Dunia 2026, Selasa (23/6), dua gol brilian Messi—satu dari kaki kiri yang membelah pertahanan, satu lagi dari luar kotak penalti yang menghujam jaring—mengantarkannya melewati rekor Miroslav Klose. Total 18 gol di lima turnamen Piala Dunia, 12 di antaranya dicetak setelah usianya melewati 35 tahun. Ia menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol dalam enam pertandingan berturut-turut di ajang tersebut, menyamai keajaiban Just Fontaine (1958) dan Jairzinho (1970).
Tak hanya tajam, Messi juga menjadi mesin pencipta peluang terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia: 76 peluang diciptakan, 10 gol dan 2 assist dalam enam laga terakhir. Di Piala Dunia 2026 ini, semua lima gol Argentina hingga kini lahir dari kaki kanan dan kiri sang legenda. Ia tak hanya mengejar rekor—ia menciptakan ulang definisi ketahanan, keabadian, dan kecemerlangan di level tertinggi.
Kemenangan atas Austria bukan sekadar kemenangan tim. Ia adalah penggenapan janji: bahwa seorang pemain yang pernah menangis di tepi lapangan, karena tak mampu membawa negaranya juara, akhirnya menjadi simbol kebangkitan sebuah bangsa. Argentina, yang sejak 1986 tak pernah merasakan mahkota dunia, kini memegangnya kembali—dan semua itu berawal dari keputusan seorang pemain yang tak mau menyerah.
Dari pensiun yang terdengar seperti akhir, lahir sebuah epik yang tak akan pernah terlupakan. Messi bukan hanya raja gol. Ia adalah bukti bahwa kehebatan sejati tak pernah berakhir—ia hanya menunggu seseorang yang berani kembali.















