Sumbawanews.com,- Timnas Brasil meraih kemenangan tipis 2-1 atas Jepang dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Houston Stadium, Senin, 29 Juni 2026, lewat gol penentu Gabriel Martinelli di menit ke-90+5. Kemenangan ini mengamankan langkah Selecao ke babak 16 besar, sekaligus memicu spekulasi panjang tentang keputusan pelatih Carlo Ancelotti yang membiarkan Neymar duduk di bangku cadangan sepanjang pertandingan.
Ancelotti, yang kini menangani timnas Brasil, tidak menjelaskan alasan teknis langsung terkait keputusan itu. Namun, dalam konferensi pers pasca-laga, ia menekankan bahwa keberhasilan tim bukanlah hasil dari individualisme, melainkan kerja tim yang terstruktur dan disiplin. “Ini adalah pertandingan paling komplet yang kami mainkan di Piala Dunia sejauh ini,” ujarnya.
Jepang tampil sangat disiplin di babak pertama. Pertahanan berlapis dan jarak antarpemain yang rapat membuat Brasil kesulitan menembus lini belakang meski menguasai bola hingga 68 persen. Ancelotti mengakui bahwa timnya sempat frustrasi, tetapi tidak pernah kehilangan keyakinan. “Mereka bertahan dengan sangat baik. Kami tidak bisa menemukan ruang, tapi kami tahu gol akan datang—jika kami tetap tenang.”
Di babak kedua, strategi berubah. Brasil beralih dari serangan berbasis sayap yang kaku menjadi pola umpan silang yang lebih agresif ke kotak penalti. Perubahan ini membuahkan hasil: Casemiro menyamakan kedudukan pada menit ke-67, diikuti oleh gol kemenangan Martinelli yang menghantam jaring setelah sundulan dari umpan silang Vinicius Jr.
Ancelotti juga mengungkap pesan kunci yang ia sampaikan saat turun minum: “Saya bilang kepada para pemain, jangan terburu-buru. Sabar. Jika kita tetap menjaga bentuk permainan, Jepang akan kelelahan. Dan ketika mereka kelelahan, ruang akan muncul.”
Tidak ada pernyataan resmi dari Ancelotti bahwa Neymar cedera atau tidak siap bermain. Dalam susunan pemain sebelum laga, Matheus Cunha dipercaya sebagai starter di lini depan, sementara Neymar—yang sebelumnya menjadi andalan di tiga laga sebelumnya—tetap di bangku cadangan. Kebijakan ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Neymar adalah pencetak gol terbanyak Brasil di turnamen ini hingga laga tersebut.
Namun, hasilnya jelas: Brasil menang tanpa bintangnya. Ancelotti memilih keamanan taktis daripada keajaiban individu. Dan di menit-menit terakhir, keputusan itu terbukti tepat—bukan karena Neymar tidak mampu, tapi karena tim ini bisa menang tanpa harus mengandalkannya.















