Sumbawanews.com,- Pertandingan antara Austria dan Aljazair di fase grup Piala Dunia 2026 berakhir dengan skor dramatis 3-3, mengakhiri perjalanan Timnas Iran di ajang tersebut. Hasil itu, yang lahir dari gol penyeimbang Sasa Kalajdzic pada menit ke-90+6, secara langsung menghapus peluang Iran lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, meski sebelumnya mereka sempat bertahan dengan harapan tipis. Iran sendiri telah bermain imbang 1-1 lawan Amerika Serikat di laga terakhir grup mereka, sehingga nasib mereka benar-benar bergantung pada hasil laga antara Austria dan Aljazair.
Kedua tim yang saling bertemu itu, sebelum gol terakhir, tampak mempertahankan ritme yang tidak agresif—hingga Aljazair unggul 3-2 melalui gol Riyad Mahrez di menit ke-90+3. Namun, hanya tiga menit berselang, Kalajdzic menyamakan kedudukan, membuat kedua tim lolos bersama ke babak 32 besar, sementara Iran terdampar di luar. Kejadian ini memicu tudingan luas tentang kemungkinan pengaturan skor, atau “match fixing”. Banyak pengamat dan fans menyebut hasil itu terlalu sempurna: Austria dan Aljazair sama-sama lolos tanpa harus berjuang keras, sementara Iran—yang menanggung beban politik dan emosional sebagai tim Asia yang paling diharapkan—harus pulang lebih awal.
Kapten Aljazair, Riyad Mahrez, bahkan secara terbuka mengatakan bahwa akhir pertandingan terasa “canggung”, menambahkan kecurigaan yang sudah menggema di media sosial dan kalangan pakar sepak bola. Beberapa analis menyebut bahwa tidak ada upaya serius dari kedua tim untuk menang setelah gol Mahrez, seolah-olah mereka sengaja mempertahankan skor imbang demi kepentingan bersama.
Namun, FIFA menolak membuka investigasi. Dalam pernyataan resmi yang dirilis beberapa jam setelah pertandingan, badan sepak bola dunia itu menyatakan bahwa tidak ada indikasi pelanggaran yang memadai untuk memicu proses hukum. “Tidak ada bukti konkret yang menunjukkan adanya manipulasi. Kami memantau semua pertandingan secara ketat, dan dalam hal ini, tidak ada anomali teknis atau perilaku yang melanggar kode etik,” demikian bunyi pernyataan FIFA, tanpa menyebutkan data statistik atau rekaman video yang menjadi dasar penilaian mereka.
Penolakan ini memicu kemarahan di Iran. Pemerintah dan asosiasi sepak bola negara itu menyatakan kekecewaan mendalam, menganggap keputusan FIFA sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap keadilan olahraga. Sementara itu, sejumlah suporter Iran di media sosial menyoroti fakta bahwa laga ini menjadi satu-satunya pertandingan di fase grup yang berakhir dengan skor 3-3, dan satu-satunya di mana tim yang unggul di menit-menit terakhir justru membiarkan lawan menyamakan kedudukan tanpa upaya pertahanan yang signifikan.
Di tengah kecaman, tidak ada satu pun pihak yang bisa membuktikan secara hukum bahwa pertandingan itu dimanipulasi. Tapi di mata banyak orang, keadilan tidak hanya soal bukti—tapi juga soal persepsi. Dan bagi Timnas Iran, yang telah bertarung habis-habisan selama tiga pertandingan, persepsi itu sudah cukup untuk melukakan hati.















