Sumbawanews.com,- Jakarta – Modus penipuan berlapis terungkap di balik layanan pernikahan mewah yang dijanjikan Wedding Organizer (WO) Marwah di Jakarta Timur. Pasangan suami istri, RM dan ER, yang mengelola bisnis tersebut, diduga memutar uang dari calon pengantin baru untuk menutupi kewajiban pesta sebelumnya, sebuah skema mirip “ponzi” yang kian runtuh saat arus dana baru menipis.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur, AKP Bayu Kurniawan, menjelaskan bahwa uang yang seharusnya digunakan untuk membiayai dekorasi, catering, hingga akomodasi tamu justru dialihkan untuk menutupi kegagalan penyelenggaraan acara sebelumnya. “Ini bukan sekadar kelalaian. Ini sistematis. Uang korban baru dipakai untuk menutupi utang pesta lama. Jika tidak ada klien baru, seluruh rangkaian acara langsung kolaps,” ujar Bayu di Mapolres Jakarta Timur, Senin (1/6/2026).
Penyidik menemukan pola yang terus berulang: calon pengantin membayar sebagian besar atau seluruh biaya sesuai kontrak, namun layanan yang dijanjikan tak kunjung terealisasi. Beberapa acara bahkan ditinggalkan setengah jalan—dekorasi belum selesai, katering tak datang, atau bahkan pengantin harus menunda resepsi karena tidak ada dana untuk menutupi biaya operasional.
Kedua tersangka, yang sebelumnya pernah terlibat kasus serupa, ternyata bukan pemula. Mereka memanfaatkan reputasi WO Marwah yang dikenal mewah dan “terpercaya” untuk menarik korban baru, sambil terus menunda kewajiban pada korban lama. “Mereka mengandalkan kepercayaan. Ketika satu pesta gagal, mereka langsung cari klien berikutnya untuk menutupi kerugian,” tambah Bayu.
Polisi kini tengah mengaudit aliran dana dari puluhan rekening yang terkait dengan WO Marwah, serta mengidentifikasi korban lain yang belum melapor. Hingga kini, lebih dari 15 kasus telah terkonfirmasi, dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah per korban.
Atas perbuatannya, RM dan ER dijerat Pasal 492 KUHP tentang perbuatan curang dan Pasal 486 KUHP tentang penggelapan. Keduanya terancam hukuman maksimal empat tahun penjara. Namun, bagi para korban, hukuman bukanlah satu-satunya keadilan yang mereka cari. “Kami sudah bayar uangnya. Tapi pernikahan kami jadi bahan ejekan. Kapan kami bisa ulang?” keluh salah satu korban yang enggan disebutkan namanya.
Polisi mengimbau masyarakat yang pernah menggunakan jasa WO Marwah—terutama yang belum menerima layanan penuh—segera melapor. “Jangan tunggu sampai acara gagal. Jika ada tanda-tanda penundaan berulang, segera beri tahu kami. Ini bukan sekadar masalah bisnis, tapi pelanggaran kepercayaan yang merenggut momen paling sakral dalam hidup,” tegas Bayu.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi calon pengantin yang tergiur harga murah dan janji mewah. Di balik kemegahan balon dan karpet merah, bisa jadi bersembunyi jaringan penipuan yang siap menggulung harapan—dengan skema yang sama: gali lubang, tutup lubang.















