Sumbawanews.com,- Suasana hening memenuhi Arlington National Cemetery, Washington DC, saat tiupan sangkakala menggema di antara deretan nisan putih yang berbaris rapi. Di sana, pada 18 Mei 2026, keluarga veteran, diplomat, dan warga negara dari tiga benua berkumpul untuk mengenang para pelaut yang gugur dalam satu pertempuran laut yang terjadi lebih dari delapan dekade lalu—di perairan Selat Sunda, Indonesia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, hadir sebagai tamu kehormatan dalam upacara tahunan yang memperingati gugurnya awak kapal penjelajah USS Houston milik Angkatan Laut AS dan HMAS Perth dari Angkatan Laut Australia. Keduanya tenggelam pada 1 Maret 1942, setelah terlibat pertempuran sengit melawan armada Angkatan Laut Jepang yang jauh lebih besar. Dalam serangan yang melibatkan 87 torpedo dan hujan tembakan senapan mesin, 693 awak USS Houston dan 353 awak HMAS Perth tak selamat. Kapal-kapal Jepang pun ikut hancur, termasuk satu penyapu ranjau dan satu kapal angkut pasukan.
Bukan sekadar peringatan militer, upacara ini menjadi simbol pengakuan bahwa sejarah tidak mengenal batas negara. Di tengah heningnya malam, karangan bunga diletakkan di atas tanah yang menguburkenang para pahlawan—sebagian besar jenazah mereka belum ditemukan, tetapi namanya terukir di nisan di Arlington, sementara kapal-kapal mereka tetap berbaring di dasar Selat Sunda, menjadi makam perang terbesar di kawasan Asia Tenggara.
“Selat Sunda bukan hanya lokasi pertempuran,” ujar Dubes Indroyono dalam sambutannya. “Ini adalah makam bersama para prajurit dari berbagai bangsa yang berjuang demi kebebasan. Indonesia berkomitmen menjaga situs ini sebagai warisan sejarah manusia, bukan milik satu negara.”
Upacara yang menjadi pembuka rangkaian Memorial Day AS itu juga menampilkan pembacaan puisi oleh siswa sekolah menengah dari Philadelphia, doa lintas agama, dan lagu kebangsaan yang dinyanyikan dalam tiga bahasa: Inggris, Australia, dan Indonesia. Di sela-sela ritme musik militer, hadir pula perwakilan keluarga korban dari AS, Australia, dan bahkan dari Indonesia—yang meski tak memiliki nama di nisan, tetap hadir sebagai pengingat bahwa pengorbanan itu nyata, dan masih dirasakan.
Pertempuran ini, yang terjadi hanya beberapa minggu setelah jatuhnya Jakarta ke tangan Jepang, menjadi salah satu momen paling tragis dalam sejarah Perang Dunia II di Asia Pasifik. USS Houston, yang dikenal sebagai “The Galloping Ghost of the Java Coast,” dan HMAS Perth, kapal perang paling modern milik Australia saat itu, berusaha meloloskan diri dari blokade Jepang. Mereka bertahan hingga amunisi habis, meski tanpa dukungan udara dan dalam kegelapan malam yang pekat.
Kini, lebih dari 80 tahun kemudian, kenangan itu hidup kembali—bukan di museum, tapi di tanah suci Amerika, di antara para prajurit yang gugur di Normandia, Iwo Jima, dan kawasan lainnya. Bagi warga AS, peringatan ini menghubungkan Memorial Day dengan sebuah titik di peta yang jauh: sebuah selat di Nusantara yang menjadi saksi keberanian dan kehancuran. Bagi Indonesia, kehadiran dalam upacara ini adalah pengakuan bahwa sejarah nasional bukan hanya tentang perjuangan di darat, tapi juga di laut—tempat kapal-kapal asing berlabuh bukan sebagai penjajah, tapi sebagai sekutu yang berbagi takdir.
Di kota Houston, Texas, yang dinamai setelah kapal itu, warga masih memperingati keberanian awak USS Houston. Di Perth, Australia, monumen berdiri tegak menghadap ke laut. Dan di Selat Sunda, para penyelam dan arkeolog laut terus bekerja untuk memetakan reruntuhan kapal yang kini menjadi terumbu karang hidup—tempat ikan-ikan berenang di atas puing-puing perang, seperti alam sendiri yang berusaha menyembuhkan luka sejarah.
Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan. Tapi penghormatan yang terus hidup di benua berbeda justru menjadi kemenangan abadi: bahwa di tengah kekejaman perang, ada nilai kemanusiaan yang tak bisa dihancurkan—dan bahwa sejarah, jika diingat dengan tulus, bisa menjadi jembatan, bukan tembok.















