Sumbawanews.com,- Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa perayaan Dharmasanti Waisak 2570 BE di Candi Borobudur, Magelang, bukan sekadar momen spiritual, tetapi juga titik balik strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang berakar pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Dalam kesempatan itu, Riefky mengapresiasi bagaimana tradisi keagamaan yang kaya makna mampu menjadi mesin penggerak inovasi, pariwisata spiritual, dan diplomasi budaya Indonesia di kancah global.
“Waisak mengajarkan welas asih dan kebijaksanaan—nilai-nilai yang tak hanya menyatukan umat, tapi juga menjadi fondasi bagi karya-karya kreatif yang autentik dan berdampak ekonomi,” ujar Riefky dalam keterangan resmi, Selasa (3/6/2026). Ia menekankan bahwa perayaan yang dihadiri ratusan ribu umat Buddha dari seluruh penjuru nusantara ini menjadi panggung bagi seniman, pengrajin, dan pelaku ekraf yang mengangkat simbol-simbol budaya Buddha menjadi produk bernilai jual tinggi, mulai dari kerajinan lentera, batik motif naga, hingga koleksi fashion bernuansa spiritual.
Kehadiran Kementerian Ekraf dalam peringatan ini merupakan kelanjutan dari kolaborasi berkelanjutan dengan Wadah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) sejak Waisak 2569 BE. Kolaborasi tersebut telah melahirkan berbagai inisiatif, termasuk pameran seni berbasis komunitas, pelatihan kewirausahaan bagi pelaku ekraf di sekitar Borobudur, hingga integrasi teknologi seperti drone light show yang memvisualisasikan perjalanan hidup Siddhartha Gautama—sebuah paduan antara tradisi dan inovasi yang memukau.
Puncak acara yang mengusung tema “Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia” menyuguhkan pertunjukan seni tradisional, paduan suara Walubi Jawa Tengah, dan pelepasan ratusan lampion sebagai simbol harapan dan kedamaian. Di balik keindahan visualnya, setiap elemen acara dirancang untuk mengangkat nilai-nilai toleransi dan kerukunan sebagai aset nasional yang tak ternilai.
Candi Borobudur, yang menjadi latar utama perayaan, kembali menegaskan posisinya sebagai simbol peradaban dunia yang menjunjung tinggi perdamaian. Dengan dukungan penuh dari Kementerian Ekraf, Borobudur tidak lagi hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga pusat ekosistem kreatif yang menghubungkan spiritualitas, ekonomi, dan diplomasi budaya.
Riefky menambahkan, keberhasilan Waisak 2026 menjadi bukti nyata bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu—ia adalah mesin ekonomi masa depan. “Ketika kita merawat akar budaya, kita sekaligus menanam pohon yang akan memberi buah bagi generasi mendatang,” katanya.
Perayaan ini juga dihadiri Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, tokoh lintas agama, serta perwakilan dari berbagai negara yang menjadikan Waisak sebagai ajang dialog antarperadaban. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya merayakan keagamaan, tapi juga memperkuat citranya sebagai negara yang mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan tantangan.















