Home Berita Internasional Rupiah Melemah, Wisatawan Singapura Ramai Serbu Jakarta

Rupiah Melemah, Wisatawan Singapura Ramai Serbu Jakarta

Sumbawanews.com,- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan internasional, kali ini dari media Malaysia _The Star_, yang menggambarkan fenomena unik: meski keamanan di Jakarta menjadi perhatian, wisatawan dari Singapura justru berbondong-bondong datang—bukan untuk liburan, tapi untuk belanja dan kuliner.

Hari ini, rupiah menyentuh level Rp17.879 per dolar AS, mendekati angka psikologis Rp18.000. Di tengah tekanan mata uang Asia yang bervariasi—yuan China menguat tipis, ringgit Malaysia stabil, sementara peso Filipina dan won Korea melemah—rupiah menjadi salah satu mata uang paling terpuruk. Namun, di balik angka-angka ekonomi itu, ada dinamika sosial yang lebih menarik: warga Singapura, yang biasanya menganggap Jakarta sebagai destinasi berisiko, kini memandangnya sebagai surga belanja.

_The Star_ menyebut Jakarta kerap disebut “Gotham City” dalam pemberitaan lokal akibat lonjakan kasus perampokan, termasuk yang menargetkan turis asing di kawasan Kebon Sirih dan Menteng. Video-video penjambretan yang viral sempat memicu kekhawatiran. Namun, bagi banyak wisatawan, risiko itu tak sebanding dengan keuntungan ekonomi. “Tidak ada waktu untuk takut—terlalu banyak belanjaan yang harus dilakukan,” ujar seorang perempuan asal Singapura berusia 52 tahun, yang menghabiskan empat hari di ibu kota dalam “maraton belanja” pada akhir Mei.

Laporan itu mengutip kisah Marcus Tan, seorang turis lain yang mengaku seratus dolar Singapura bisa menutupi makan, belanja, dan akomodasi selama beberapa hari. “Di sini, saya bisa beli merek yang sama seperti di Singapura, tapi harganya jauh lebih murah,” katanya. Baginya, rupiah yang lemah bukanlah ancaman, melainkan peluang.

Tak semua pengunjung merasa terancam. Noraini, seorang profesional medis asal Singapura yang menginap di Menteng, menanggapi kekhawatiran keamanan dengan pragmatis. “Kami hanya berhati-hati seperti di kota besar mana pun—jangan berdiri terlalu dekat jalan dengan ponsel terbuka, jangan biarkan tas terbuka. Hal-hal dasar, tapi penting.”

Pemerintah Indonesia, menurut _The Star_, telah meningkatkan pengamanan di titik-titik strategis, meski Gubernur Jakarta tetap menegaskan bahwa insiden kejahatan bersifat terisolasi. Survei yang merujuk Jakarta sebagai kota teraman kedua di ASEAN setelah Singapura juga dikutip sebagai bahan perbandingan.

Di sisi lain, media Singapura _The Straits Times_ memperdalam analisis ekonomi: kepala riset Asia di ANZ Banking Group, Khoon Goh, memperingatkan bahwa pelemahan rupiah tak hanya soal sentimen pasar, tapi juga tekanan fiskal akibat subsidi energi yang tinggi. “Imbal hasil domestik perlu dinaikkan agar menarik bagi modal asing,” ujarnya, menyoroti risiko jangka panjang jika kebijakan moneter dan fiskal tak segera diselaraskan.

Namun, di jalan-jalan Jakarta, di pusat perbelanjaan dan warung kopi, yang terasa bukan angka-angka ekonomi, melainkan suara tawa, kereta bawah tanah yang penuh sesak, dan tas-tas belanja yang penuh sesak oleh produk impor yang kini jauh lebih terjangkau. Bagi ribuan wisatawan Singapura, rupiah yang anjlok bukanlah krisis—ia adalah diskon besar yang tak bisa mereka lewatkan.

Previous articleWaisak Jadi Pilar Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Next articleSatlantas Polres Jember Hadirkan Pelayanan Publik yang Cepat dan Transparan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik