Sumbawa Barat, Sumbawanews.com – Smelter tembaga dan fasilitas pemurnian logam mulia milik PT Amman Mineral Industri (AMIN) di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, tidak hanya menghasilkan katoda tembaga, emas, perak, dan selenium, tetapi juga memproduksi asam sulfat dalam jumlah sangat besar yang berpotensi menjadi komoditas strategis bagi pengembangan industri hilir di daerah.
Berdasarkan data resmi perusahaan, smelter AMMAN dirancang untuk mengolah hingga 900 ribu ton konsentrat tembaga per tahun. Dari proses tersebut akan dihasilkan sekitar 222 ribu ton katoda tembaga berkadar 99,99 persen serta sekitar 830 ribu ton asam sulfat berkadar 98,5 persen setiap tahun.
Jumlah tersebut menjadikan asam sulfat sebagai salah satu produk terbesar yang dihasilkan fasilitas smelter AMMAN. Bahkan volumenya hampir empat kali lipat dibandingkan produksi katoda tembaga yang menjadi produk utama perusahaan.
Jika dihitung rata-rata, produksi asam sulfat mencapai sekitar 69 ribu ton per bulan, 2.274 ton per hari, atau sekitar 95 ton per jam saat fasilitas beroperasi penuh. Dengan kapasitas tersebut, smelter AMMAN menjadi salah satu produsen asam sulfat terbesar di Indonesia.
Presiden Joko Widodo saat meresmikan smelter AMMAN pada September 2024 menyebut fasilitas tersebut akan menghasilkan sekitar 850 ribu ton asam sulfat sebagai produk sampingan setiap tahun, selain 220 ribu ton katoda tembaga, 18 ton emas, dan 55 ton perak.
Asam sulfat merupakan bahan baku penting untuk berbagai sektor industri, mulai dari industri pupuk, pengolahan mineral, pemurnian logam, hingga industri baterai dan kendaraan listrik. Besarnya produksi asam sulfat dari smelter AMMAN membuka peluang lahirnya industri turunan di Kabupaten Sumbawa Barat yang dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah.
Apabila harga asam sulfat di pasar internasional berada pada kisaran 100 dolar AS per ton, maka nilai ekonomi dari 830 ribu ton produksi tahunan dapat mencapai sekitar 83 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp1,3 triliun per tahun dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS.
Pengamat ekonomi daerah menilai, potensi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah untuk mulai mendorong investasi industri hilir berbasis asam sulfat di KSB. Selain meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal, keberadaan industri turunan juga dapat memperkuat struktur ekonomi daerah agar tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan semata.
Dengan kapasitas produksi yang sangat besar dan kebutuhan industri nasional yang terus meningkat, asam sulfat hasil smelter AMMAN berpotensi menjadi salah satu komoditas strategis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat dalam jangka panjang.
Editorial: (Redaksi Sumbawanews.com)
*”Bicara Apa Adanya”*

















