Home Berita Nasional Sawah Solok Bangkit dalam 6 Bulan

Sawah Solok Bangkit dalam 6 Bulan

Sumbawanews.com,- Jakarta – Hamparan hijau kembali menghiasi Jorong Batu Palano, Nagari Salayo, Kabupaten Solok, pada Senin, 25 Mei 2026. Padi yang sebelumnya tertimbun pasir dan lumpur akibat banjir bandang November 2025 kini menguning, siap dipanen. Di tengah pematang yang baru diperbaiki, para petani tersenyum—mereka baru saja menikmati panen perdana setelah enam bulan berjuang membangkitkan tanah yang hampir mati.

Bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatra itu menghancurkan irigasi, menutupi lahan pertanian hingga kedalaman satu meter, dan membuat ribuan petani kehilangan musim tanam. Tapi di Solok, waktu tak disia-siakan. Dalam hitungan bulan, sawah yang diperkirakan butuh setahun untuk pulih, justru kembali produktif—bahkan lebih cepat dari prediksi.

Data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra mencatat, 1.323 hektare sawah di Kabupaten Solok telah kembali ditanami hingga pertengahan Mei 2026, atau 88 persen dari total 2.205 hektare lahan yang terdampak. Angka ini menjadi yang tertinggi di Sumatera Barat, sekaligus bukti keberhasilan kolaborasi tak biasa antara pemerintah pusat, penyuluh pertanian, dan warga yang tak menunggu bantuan datang.

“Kami tidak bisa duduk diam. Sawah ini sumber hidup kami,” kata Melati, 45, petani dari Kelompok Tani Sejuk dan Damai. Ia menunjuk sebidang tanah yang dulu tertutup endapan tebal. Kini, padi di sana sudah dipanen. “Dari groundbreaking Januari, April sudah panen. Empat bulan. Itu keajaiban yang kami ciptakan sendiri.”

Keluarga Melati—yang tergabung dalam 27 petani lain—berhasil merehabilitasi 35 hektare sawah. Mereka tak hanya mengandalkan ekskavator yang dikerahkan Satgas PRR. Setelah alat berat mengangkat lumpur dan pasir, warga turun tangan: meratakan tanah, memperbaiki pematang, membuka saluran irigasi, bahkan mengangkut material sisa bencana untuk dijual sebagai sumber dana mandiri.

“Pasir yang kami gali, kami jual. Uangnya dipakai beli benih, pupuk, atau bayar upah tukang. Kami tak menunggu bantuan penuh,” ujar Melati. Bantuan pemerintah memang datang—Rp 4,5 juta per hektare untuk sawah rusak ringan, ditambah Rp 900 ribu untuk biaya olah lahan—tapi warga tak menunggu hingga seluruh dana cair. Bantuan mulai turun Januari 2026, hanya dua bulan setelah bencana. Itu pun langsung dimanfaatkan untuk mempercepat proses.

Kepala Satgas PRR Tito Karnavian menyebut pemulihan sawah bukan sekadar soal infrastruktur, tapi soal nyawa ekonomi pedesaan. “Ini urgensi kemanusiaan. Sawah hidup, ekonomi hidup. Keluarga bisa makan, anak-anak bisa sekolah,” katanya dalam sejumlah pertemuan lapangan.

Di Solok, kecepatan itu terasa nyata. Pada Februari 2026, petani mulai menanam kembali. April, panen pertama. Mei, sawah-sawah lain mulai berwarna hijau lagi. Di titik-titik yang sempat dianggap “tidak bisa ditanami lagi”, kini muncul tanaman baru—tanda bahwa harapan tak pernah mati selama ada kerja sama.

Dari 2.205 hektare lahan terdampak, 1.247 hektare rusak ringan dan lebih dari 700 hektare rusak berat. Tapi yang mengejutkan: hampir semua sawah rusak ringan sudah kembali produktif. Yang rusak berat pun mulai dipulihkan secara bertahap, dengan dukungan teknis dan pendampingan penyuluh.

Bagi warga Salayo, panen bukan sekadar hasil pertanian. Ia adalah simbol ketahanan. Bukti bahwa ketika pemerintah hadir cepat, dan masyarakat tak menunggu, keajaiban bisa terjadi dalam hitungan bulan—bukan tahun.

Di tengah ancaman iklim yang semakin ekstrem, Solok bukan hanya pulih. Ia menjadi contoh: bagaimana sebuah desa bisa bangkit, bukan karena keajaiban, tapi karena kerja keras yang terorganisir, gotong-royong yang tak kenal lelah, dan kepercayaan bahwa tanah yang mati pun bisa bernapas kembali.

Previous articleAPBN untuk Kurban Presiden, Legal dan Berpihak
Next articleTragedi Kebakaran di Asrama Sekolah Perempuan, 16 Siswa Tewas
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik