Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto tiba di Kabupaten Gorontalo pada Rabu, 24 Juni 2026, untuk meresmikan puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026. Kedatangannya disambut hangat oleh ribuan petani, nelayan, dan petugas pertanian dari seluruh penjuru Sulawesi, yang berkumpul di Sport Center Limboto untuk menyaksikan acara yang menjadi puncak dari rangkaian kegiatan nasional selama sebulan penuh.
Sebelumnya, Presiden lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pukul 06.00 WIB, didampingi sejumlah menteri kunci Kabinet Merah Putih, yakni Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya. Perjalanan ini menjadi bagian dari serangkaian kunjungan kerja intensif yang memadukan pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan pangan, dan pendekatan langsung kepada kelompok produsen primer.
Sehari sebelumnya, Prabowo telah menyelesaikan agenda di Jawa Timur, di mana ia meresmikan ruas jalan sepanjang 1.151 kilometer yang tersebar di 37 provinsi, serta menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan. Kini, fokusnya beralih ke sektor pertanian dan perikanan—dua tulang punggung ekonomi pedesaan yang menjadi prioritas utama dalam visi ketahanan pangan nasional.
Di lokasi acara, Presiden menekankan pentingnya inovasi teknologi, akses pasar yang adil, dan penguatan kemitraan antara petani-nelayan dengan industri pengolahan. Ia menegaskan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar soal produksi, tapi juga soal keadilan distribusi dan perlindungan terhadap para produsen kecil yang selama ini sering terpinggirkan.
“Kita tidak bisa membangun negara kuat jika petani dan nelayan kita masih berjuang sendirian,” ujar Prabowo dalam sambutannya, disambut tepuk tangan meriah. “Kebijakan pangan bukan hanya soal gudang yang penuh, tapi soal kehormatan yang kembali ke tanah dan laut.”
Acara tersebut juga menampilkan pameran teknologi pertanian berbasis lokal, seperti alat panen ramah lingkungan, sistem budidaya ikan berkelanjutan, dan platform digital yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen. Sejumlah kebijakan baru pun diumumkan, termasuk insentif kredit usaha rakyat (KUR) khusus untuk kelompok nelayan pesisir dan program pelatihan berkelanjutan bagi generasi muda di pedesaan.
Dengan hadirnya Presiden secara langsung, Penas XVII ini bukan sekadar ajang pamer hasil, tapi menjadi simbol komitmen negara untuk mengembalikan posisi strategis petani dan nelayan sebagai garda terdepan ketahanan pangan. Di tengah tantangan iklim dan globalisasi, Presiden menegaskan: “Kekuatan Indonesia bukan hanya di kota-kota besar, tapi di sawah, di ladang, dan di lautan yang menghidupi jutaan keluarga.”
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan bantuan alat produksi, penghargaan kepada 100 petani dan nelayan berprestasi, serta deklarasi bersama untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia yang berkeadilan.















