Sumbawanews.com,- Survei terbaru menunjukkan semakin banyak warga Amerika Serikat yang memandang kecerdasan buatan (AI) lebih banyak membawa dampak buruk daripada manfaat. Pada 2026, proporsi mereka yang merasa AI merugikan naik menjadi 39 persen, dari hanya 31 persen pada 2025, sementara yang percaya AI bermanfaat turun tajam ke angka 9 persen. Fenomena ini terjadi meski 70 persen responden mengaku cukup atau sangat paham tentang AI—meningkat 6 persen sejak 2024. Penolakan tidak hanya terbatas pada penggunaan aplikasi digital, tetapi juga meluas ke infrastruktur fisiknya: 41 persen warga menentang pembangunan pusat data dalam radius lima kilometer dari pemukiman mereka, naik dari 28 persen hanya enam bulan sebelumnya. Para ahli menyebut munculnya stigma sosial dan penghakiman moral terhadap penggunaan AI, terutama di kalangan kreator, semakin memperdalam jarak antara teknologi dan masyarakat. Carla Milan, seorang profesional kesehatan masyarakat di New York, mengungkap kegeramannya melihat orang-orang mengadopsi AI tanpa mempertimbangkan konsekuensi sosial dan lingkungan, menggambarkan sikap itu sebagai “partisipasi dalam kehancuran bersama.”















