Sumbawanews.com,- Libur Idul Adha tak selalu dihabiskan di rumah dengan santapan daging kurban. Bagi keluarga Siti Aisyah, 38, asal Bekasi, hari raya ini justru jadi momen berharga untuk mengajak seluruh anggota keluarga berkeliling Jakarta—tanpa harus menguras kantong. Di pagi buta, sekitar pukul 07.00 WIB, mereka berangkat dari rumah, menghindari kemacetan dan keramaian, demi menikmati suasana sejuk di kawasan Monumen Nasional.
Tiba di Monas sekitar pukul 08.00 WIB, mereka langsung menggelar tikar di bawah rindangnya pohon-pohon taman. Bukan sekadar bersantai, keluarga ini membawa bekal lengkap: nasi, semur daging kurban yang dimasak semalam, kerupuk, sambal, dan minuman dingin. “Lebih enak bawa sendiri. Hemat, dan rasanya tetap seperti di rumah,” ujar Siti, sambil menatap anak-anaknya yang berlarian di rerumputan, bebas dari hiruk-pikuk pusat kota.
Tahun ini, keputusan untuk piknik bukan kebetulan. Biasanya, setelah penyembelihan hewan kurban, keluarganya memilih istirahat di rumah. Namun karena semua prosesi kurban selesai sehari sebelumnya, mereka memutuskan memanfaatkan waktu luang itu untuk quality time. “Kami ingin anak-anak merasakan libur yang berbeda. Bukan cuma makan, tapi juga bermain, foto, dan menikmati udara terbuka,” tambahnya.
Tugu Monas yang megah menjadi latar sempurna untuk foto-foto kenangan. Meski pengunjung sudah mulai berdatangan, suasana tetap nyaman—jauh dari kepadatan yang biasa terlihat saat libur panjang sekolah atau akhir pekan. “Tidak seheboh libur Lebaran. Tapi justru enak begini. Anak-anak bisa lari-lari, nggak takut tersenggol,” kata Siti, sambil mengecup dahi putrinya yang baru saja berpose dengan latar tugu berlapis marmer itu.
Setelah puas berkeliling, rencana mereka sederhana: mampir ke Lapangan Banteng untuk beli es krim, lalu pulang sebelum aktivitas harian kembali berjalan. “Besok sudah masuk lagi. Tapi hari ini, yang penting mereka bahagia. Dan kami semua bisa duduk bersama, makan makanan yang sama, tanpa gadget, tanpa tekanan,” ujarnya, tersenyum.
Di tengah maraknya destinasi wisata berbayar yang menawarkan wahana mewah, keluarga Siti justru memilih yang paling sederhana: ruang terbuka hijau, bekal rumahan, dan kebersamaan tanpa harga. Di Monas, mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada tiket masuk—yaitu waktu yang tak tergantikan, dan kebahagiaan yang tak perlu dibeli.















