Sumbawanews.com,- Pemerintah Kota Sorong menyalurkan 30 ekor sapi kurban kepada umat Muslim di wilayahnya menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, meski tengah menjalani restrukturisasi anggaran yang ketat. Langkah ini menjadi simbol komitmen pemerintah daerah untuk tetap menjaga tradisi keagamaan sekaligus memastikan keadilan sosial dalam distribusi daging kurban.
Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, menegaskan bahwa seluruh hewan kurban telah melewati pemeriksaan kesehatan menyeluruh oleh tim dokter hewan setempat. “Kami tidak hanya memenuhi aspek ritual, tapi juga menjamin keamanan pangan. Setiap sapi yang disalurkan sehat, layak konsumsi, dan memenuhi standar syariat,” ujarnya di sela penyerahan hewan kurban di Masjid Raya Al-Akbar, Rabu (27/5).
Meski menghadapi tekanan fiskal, Pemkot Sorong memilih untuk tidak mengurangi jatah kurban tahun ini. Septinus menilai, kehadiran hewan kurban dari pemerintah bukan sekadar bantuan, tapi bentuk kepedulian yang memperkuat ikatan sosial di tengah keragaman masyarakat Papua Barat Daya. “Di tengah keterbatasan, kami tetap berupaya memberi. Ini adalah bentuk syukur sekaligus tanggung jawab moral,” katanya.
Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Raya Al-Akbar, Muhudar Wailegi, menyambut hangat keputusan tersebut. Ia mengatakan, bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat yang tidak mampu membeli hewan kurban sendiri. “Ini bukan hanya soal daging, tapi soal kebersamaan. Dengan bantuan ini, ratusan keluarga bisa merasakan kegembiraan Idul Adha secara merata,” ujar Muhudar.
Pendistribusian sapi kurban akan dilakukan secara serentak ke sejumlah masjid dan lokasi strategis di seluruh kecamatan Kota Sorong. Proses penyaluran dijadwalkan selesai paling lambat hari berikutnya, agar daging bisa segera diproses dan dibagikan kepada mustahik sebelum pelaksanaan penyembelihan.
Pemkot Sorong juga bekerja sama dengan organisasi keagamaan dan relawan setempat untuk memastikan distribusi berjalan adil, transparan, dan sesuai prinsip syariah. Tahun depan, pemerintah berencana meningkatkan jumlah hewan kurban, seiring dengan peningkatan kesejahteraan daerah dan partisipasi masyarakat dalam program qurban.
Dengan langkah ini, Sorong tidak hanya menjadi kota yang mempertahankan tradisi, tapi juga membuktikan bahwa kebijakan hemat tidak harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.















