Sumbawanews.com,- Polisi menangkap dua pria di Duren Sawit, Jakarta Timur, yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap dunia spiritual untuk mencuri sepeda motor. Keduanya, RAT (60) dan AJ (46), berperan sebagai tim yang terstruktur: satu berpura-pura sebagai paranormal sakti, sementara satunya lagi berpalsu sebagai pasien yang sembuh berkat “ritual pembersihan sial”.
Aksi itu berlangsung saat korban, seorang remaja berusia 19 tahun, duduk di atas motornya di sebuah jalan permukiman. RAT mendekat, berpura-pura mencari alamat untuk “pengobatan spiritual”. Saat berjabat tangan, ia menyerahkan sebuah benda kecil—yang ternyata adalah paku yang sebelumnya disembunyikan di bawah lidahnya. Dengan trik yang terencana, paku itu tampak seolah keluar dari tubuh korban, sebagai “tanda sial yang terangkat”.
AJ langsung menyambung adegan. Ia memuji RAT sebagai orang sakti, lalu menakut-nakuti korban bahwa nasib buruk masih mengikuti—dan satu-satunya cara menghilangkannya adalah dengan membuang bungkusan berisi paku dan uang kertas korban ke tempat yang jauh, sekitar 50 meter dari lokasi.
Tanpa curiga, korban pun berjalan menjauh. Saat itulah, kedua pelaku beraksi cepat: mereka membawa kabur sepeda motor milik korban yang tak sempat menutup kunci.
“Motifnya jelas: ekonomi. Mereka tidak mencuri karena kejahatan berdarah, tapi karena ingin menguasai alat transportasi yang bisa langsung dijual,” ujar Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Danang Setiyo Pambudi Sukarno, Kamis (28/5).
Modus ini bukan yang pertama, tapi tetap mematikan karena memanfaatkan kerentanan psikologis. Dalam beberapa kasus serupa, pelaku kerap menggunakan benda-benda sepele—paku, koin, atau kain—yang dianggap sebagai “penyebab kemalangan” oleh korban yang percaya pada hal-hal gaib.
Kedua tersangka kini dijerat Pasal 477 ayat (1) huruf g dan/atau Pasal 492 KUHP UU Nomor 1 Tahun 2023, dengan ancaman hukuman hingga tujuh tahun penjara. Polisi juga mengamankan sepeda motor hasil curian dan barang bukti lain, termasuk uang kertas yang digunakan sebagai pembungkus “sial”.
Kasus ini kembali mengingatkan masyarakat: kepercayaan bukan alasan untuk mengabaikan kewaspadaan. Di tengah tekanan ekonomi, para penjahat kian kreatif—dan yang paling berbahaya adalah yang menyamar sebagai penolong.















