Sumbawanews.com,- Ribuan mahasiswa Universitas Bina Nusantara Kampus (UBK) berunjuk rasa di depan kantor rektorat, menuntut pengunduran diri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) setelah diduga menerima dana tak wajar dari putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Aksi yang berlangsung sejak pagi hingga siang itu berlangsung tertib, namun penuh emosi, dengan peserta membawa spanduk bertuliskan “BEM Bukan Barang Jualan” dan “Kami Tidak Mau Dipimpin oleh yang Terima Uang”.
Menurut saksi mata dan dokumentasi video yang beredar luas di media sosial, sejumlah anggota BEM UBK dikabarkan menerima sejumlah uang tunai dalam pertemuan tertutup di sebuah kafe di kawasan Jakarta Selatan pada 10 Agustus lalu. Pertemuan itu, menurut informasi yang diungkap oleh seorang mahasiswa yang menjadi sumber internal, diinisiasi oleh seorang staf khusus Gibran yang mengaku mewakili “program pengembangan kepemimpinan generasi muda”.
Dana sebesar Rp150 juta, yang disebut sebagai “bantuan operasional”, diserahkan secara langsung kepada ketua BEM UBK dan dua wakilnya. Sumber yang sama menegaskan bahwa uang itu tidak disertai surat resmi, tidak dicatat dalam laporan keuangan kampus, dan tidak ada mekanisme transparansi. “Ini bukan bantuan. Ini suap untuk mengendalikan suara mahasiswa,” ujar Rizky, koordinator aksi, kepada wartawan.
Kampus UBK, yang hingga kini belum memberikan pernyataan resmi, diketahui tengah menggelar investigasi internal atas dugaan ini. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, belum memberikan tanggapan publik. Namun, sumber dekat dengan timnya mengatakan bahwa Gibran “tidak terlibat langsung” dan bahwa uang tersebut “mungkin disalahgunakan oleh stafnya”.
Reaksi dari kalangan akademisi pun bermunculan. Dekan Fakultas Hukum UBK, Prof. Dr. Siti Aminah, menyatakan bahwa tindakan tersebut “melanggar prinsip dasar otonomi kampus dan integritas kepemimpinan mahasiswa”. “Jika terbukti, ini bukan hanya kasus korupsi, tapi serangan terhadap demokrasi kampus,” katanya.
BEM UBK sendiri, dalam pernyataan singkat yang dirilis lewat akun resmi Instagram, mengaku “sedang memverifikasi informasi” dan menjanjikan “transparansi penuh”. Namun, pernyataan itu gagal meredam amarah mahasiswa. Aksi turun ke jalan diperkirakan akan berlanjut hingga ada kejelasan hukum dan pengunduran diri para pejabat yang diduga terlibat.
Di tengah gelombang protes, sejumlah organisasi mahasiswa lintas kampus di Jakarta telah mengumumkan solidaritas, termasuk gerakan “BEM Bersih” yang menyerukan reformasi struktural dalam organisasi kemahasiswaan nasional. “Kami tidak ingin generasi berikutnya tumbuh dengan keyakinan bahwa kepemimpinan bisa dibeli,” ujar Nisa, mahasiswi dari Universitas Indonesia yang ikut dalam aksi solidaritas.
Pihak kepolisian belum mengambil langkah hukum, namun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan sudah meminta laporan resmi dari pihak kampus. Jika terbukti, kasus ini bisa menjadi salah satu skandal korupsi paling mencolok dalam sejarah organisasi kemahasiswaan di Indonesia.















