Sumbawanews.com,- Di balik kabar duka yang mengguncang Temanggung, tersimpan kisah sekeluarga yang tak hanya dikenal sebagai wisatawan biasa, tapi sebagai sosok-sosok yang penuh makna di mata keluarga dan lingkungan. Muhammad Ali Munawar, ayah dari dua putra berprestasi, dikenal sebagai sosok teladan yang tak pernah melewatkan momen kecil dalam hidup anak-anaknya.
Ali, yang tinggal di Ambarawa namun rutin pulang ke kampung halaman di Banyubiru, Semarang, setiap akhir pekan, adalah pria yang menjadikan tanggung jawab sebagai prinsip hidup. Ia tak pernah mengizinkan putra-putranya naik motor ke sekolah meski sudah cukup umur—karena ia percaya, keselamatan lebih penting daripada kebebasan. Ia lebih memilih mengantar atau mengjemput anak-anaknya dengan kendaraan umum, bahkan saat cuaca buruk.
Putra tertua, Bagas Amar Hakiki (21), mahasiswa Fakultas Sastra Prancis di Universitas Gadjah Mada, baru saja hampir menyelesaikan skripsinya. Ia diterima sebagai fotografer resmi Keraton Yogyakarta setelah menjalani magang bertahun-tahun. Dengan kamera di tangan, Bagas mampu menangkap keindahan budaya Jawa yang sering kali terlewatkan mata kebanyakan orang. Teman-temannya menggambarkannya sebagai pemuda ramah, ceria, dan selalu siap membantu—bahkan saat ia sendiri sedang sibuk mengejar deadline akademik.
Adiknya, Alvino, siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Salatiga, adalah atlet taekwondo berbakat yang mewakili Kabupaten Semarang di berbagai kejuaraan, bahkan hingga ke Bali. Setiap kali Alvino bertanding, Ali selalu hadir di sampingnya—bukan hanya sebagai ayah, tapi sebagai pendukung paling setia. “Dia tidak pernah membiarkan anaknya sendirian,” kata Arkhanudin, kakak Ali. “Bahkan saat harus bolak-balik kota, ia tetap datang.”
Keluarga ini bukan hanya dekat secara emosional, tapi juga sosial. Karyawan-karyawan mereka sebagian besar berasal dari warga desa setempat. Mereka dikenal sebagai orang yang dermawan, ramah, dan tak pernah memandang status. Kehilangan mereka bukan sekadar duka pribadi—tapi kehilangan bagi seluruh komunitas yang merasakan kehangatan dari kehadiran mereka.
Ketika tragedi terjadi di Posong, Temanggung, di mana keempat anggota keluarga ditemukan meninggal dalam tenda glamping, pihak kepolisian memutuskan hanya melakukan otopsi terhadap satu jenazah—Alvino—karena alasan teknis dan konsistensi prosedur. Jenazah lainnya tetap dalam pengawasan untuk menentukan penyebab kematian yang diduga kuat akibat keracunan gas portable. Rumah tempat mereka tinggal di Ambarawa pun disterilkan sementara, sehingga prosesi pemakaman dilakukan di TPU Sorogeni, Desa Kebumen, Banyubiru—tempat keluarga itu biasa pulang, bukan hanya sebagai tujuan liburan, tapi sebagai rumah hati.
Empat liang lahat digali berdekatan, bukan karena keharusan, tapi karena keinginan keluarga besar untuk tetap bersama—bahkan dalam kematian. Tak ada jarak antara ayah, ibu, dan dua putra yang selama ini tak pernah terpisah.
Teman-teman Alvino masih ingat pesan terakhirnya di WhatsApp, yang tak pernah mereka bayangkan akan menjadi obrolan terakhir. “Sedih sekali, dia orangnya baik banget. Tidak ada firasat,” ujar seorang teman, suara tercekat.
Kini, seluruh Indonesia menatap Temanggung bukan hanya sebagai destinasi wisata yang memikat, tapi sebagai pengingat bahwa keindahan alam tak boleh mengaburkan keselamatan. Dan di balik semua itu, ada kisah seorang ayah yang mengajarkan cinta lewat tindakan—bukan kata-kata—dan dua anak yang tumbuh menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka pergi terlalu cepat. Tapi kenangan mereka, tak akan pernah padam.















