Sumbawanews.com,- Kementerian Pertahanan memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada masing-masing keluarga lima calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal dunia selama mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di satuan pendidikan TNI.
Keputusan ini diumumkan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM Kemhan), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026. Santunan diberikan sebagai bentuk tanggung jawab negara atas kejadian yang terjadi dalam rangka program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), yang bertujuan membentuk pemimpin lokal berbasis koperasi.
Kelima korban—Nola Dya Sari, Novia Rahmadani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan—meninggal setelah mengalami penurunan kesehatan yang mendadak selama pelatihan. Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam laporan resmi, sebelumnya diketahui bahwa penyebab kematian terkait dengan infeksi tuberkulosis (TBC) yang berkembang pesat di tengah tekanan fisik latihan.
Ketut menegaskan, pihaknya tidak hanya memberikan santunan, tetapi juga menangani seluruh proses pemulangan jenazah, mulai dari evakuasi di lokasi latihan, pengiriman ke daerah asal, hingga pemakaman. “Kami tidak berhenti di sana. Komunikasi dengan keluarga tetap kami jaga, untuk memastikan mereka merasa didukung secara emosional dan administratif,” ujarnya.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap tuntutan keluarga korban, khususnya keluarga Novia Rahmadani Sihotang, yang meminta pertanggungjawaban jelas dari penyelenggara. Kemenhan juga mengaku telah mengambil langkah evaluasi menyeluruh terhadap protokol kesehatan peserta SPPI, termasuk pemeriksaan medis pra-latihan yang lebih ketat.
Program SPPI, yang dijalankan sejak 2025, menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk membangun kepemimpinan desa berbasis ekonomi kerakyatan. Namun, insiden ini memicu debat publik tentang keseimbangan antara intensitas pelatihan militer dan kesiapan fisik peserta yang berasal dari latar belakang sipil.
Hingga kini, Kemenhan belum mengumumkan perubahan struktural terhadap kurikulum Latsarmil, tetapi Menhan Prabowo Subianto telah memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan peserta, termasuk skrining penyakit menular dan kapasitas fisik sebelum pelatihan dimulai.
Dengan keluarga korban kini menerima bantuan finansial dan pendampingan berkelanjutan, pemerintah berharap langkah ini dapat menjadi bentuk penghormatan atas pengabdian para calon manajer yang gugur dalam misi membangun desa.















