Home Berita Nasional Kakek PIK Nyaris Diculik, Motifnya Cinta yang Ditolak

Kakek PIK Nyaris Diculik, Motifnya Cinta yang Ditolak

Sumbawanews.com,- Pantai Indah Kapuk, Jakarta — Sebuah aksi penculikan yang nyaris berakhir tragis terungkap di kawasan PIK, Jakarta Utara, setelah seorang kakek berusia 70 tahun, berinisial GH, menjadi sasaran upaya penculikan saat berolahraga pagi. Dua pelaku berhasil ditangkap polisi, dengan peran yang jelas terbagi: satu sebagai dalang, satu lagi sebagai eksekutor. Motifnya bukan uang atau kejahatan umum, tapi cinta yang berubah jadi dendam.

Kejadian berlangsung pada 12 Mei 2026, sekitar pukul 06.55 WIB. Korban yang sedang berjalan santai di sekitar rumahnya tiba-tiba dikejar oleh sebuah mobil yang mengikuti langkahnya. Dari kendaraan itu turun seorang pria berusia 26 tahun, berinisial FAP, yang langsung berusaha memaksa korban masuk ke dalam mobil. Dengan keberanian luar biasa, GH melawan keras, berteriak, dan berhasil lolos dari cengkeraman pelaku. Aksi itu terekam kamera pengawas dan kemudian viral di media sosial, memicu respons cepat dari Polsek Metro Penjaringan.

Dua hari setelah rekaman beredar, polisi menangkap kedua pelaku. FAP, yang bertindak sebagai eksekutor, adalah teman dekat pelaku utama, CW (31), seorang trader yang mengaku memiliki hubungan asmara dengan anak korban, CKH. Namun, hubungan itu ditolak mentah-mentah oleh GH, yang mengetahui CW sudah memiliki istri dan anak. Penolakan ini tak diterima CW dengan lapang dada. Ia merasa dihina dan terputus hubungan, lalu merencanakan aksi nekat: membawa korban secara paksa agar bisa berbicara langsung.

“Dia ingin ketemu ayahnya, minta restu. Tapi setelah diblokir dan ditolak, dia nekat. Bahkan mengajak temannya yang belum tahu apa-apa untuk jadi alat,” ujar Kapolsek Metro Penjaringan, AKBP Agta Bhuwana Putra, dalam konferensi pers, Selasa (16/6/2026).

CW, yang diidentifikasi sebagai otak di balik rencana ini, mengaku menjanjikan mobil sebagai imbalan kepada FAP. Ia tak menyangka aksinya akan berujung pada upaya penculikan berdarah. FAP, yang mengaku hanya ingin membantu teman, tak mengetahui latar belakang hubungan asmara tersebut hingga kejadian berlangsung.

Keduanya kini ditahan dan dijerat Pasal 17 dan Pasal 18 juncto Pasal 450 dan Pasal 471 KUHP, yang mengatur tindak pidana penculikan dan penganiayaan. Polisi juga mengungkap bahwa CW sempat mengirim pesan ancaman kepada keluarga korban sebelum aksi dilakukan.

Korban, GH, hingga kini masih mengalami trauma berat. Ia enggan keluar rumah sendirian, bahkan untuk berjalan kaki di depan rumah. “Saya tidak percaya lagi pada orang asing. Saya pikir ini cuma mimpi buruk,” ujar GH dalam wawancara terbatas dengan tim detikcom.

Kasus ini menggambarkan betapa rentannya hubungan manusia ketika emosi tak terkendali. Cinta yang tak direstui bukan alasan untuk kekerasan. Dan di balik setiap aksi kriminal, seringkali ada seorang dalang yang mengorbankan orang lain demi memenuhi keinginan pribadi yang tak bisa diterima oleh akal sehat.

Polisi terus menggali motif lebih dalam, termasuk apakah ada pihak lain yang terlibat. Namun, satu hal sudah jelas: dalam kasus ini, bukan kekuatan fisik yang menyelamatkan nyawa—tapi keberanian seorang kakek tua yang tak mau menyerah.

Previous articleMahasiswa Surabaya Gelar Aksi Massa Tuntut Reformasi Sistemik
Next articleSebagian Indonesia Diguyur Hujan, BMKG Imbau Waspada
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.