Sumbawanews.com,- Suasana duka mendalam menyelimuti rumah duka di Perumahan Puri Wira Bhakti, Cikeas, Bogor, tempat jenazah Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan, disemayamkan. Puluhan pelayat mulai berdatangan sejak sore hingga malam, berbaris secara bergantian untuk menunaikan salat jenazah di samping peti yang diselimuti bendera Merah Putih.
Karangan bunga berjejer rapi di sepanjang lorong rumah duka, berasal dari tokoh nasional, pejabat tinggi, hingga rekan sejawat di dunia militer. Ucapan belasungkawa tertulis menghiasi setiap rangkaian, menggambarkan penghormatan atas jasa almarhum yang telah mengabdikan hidupnya bagi pertahanan negara.
Jenazah tiba di lokasi sekitar pukul 16.54 WIB, dibawa dari RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, tempat ia menghembuskan napas terakhir pada usia 76 tahun. Peti jenazah diturunkan dengan khidmat, diiringi doa lirih: “Lailahailallah, Lailahailallah.” Sebelumnya, Kementerian Pertahanan telah mengumumkan duka cita resmi atas kepergian putra terbaik bangsa yang pernah menjabat sebagai Panglima TNI dan Menteri Pertahanan di era Presiden Joko Widodo.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, Kemhan akan menggelar upacara militer dua tahap. Pada Senin (1/6/2026), pukul 07.30 WIB, jenazah akan dipindahkan ke Gedung Kemhan di Senayan, disemayamkan di depan Aula Bhinneka Tunggal Ika. Upacara persemayaman akan dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan sebagai inspektur. Pukul 11.00 WIB, upacara pelepasan akan berlangsung sebelum jenazah diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Di TMP Kalibata, Menteri Pertahanan akan memimpin langsung upacara pemakaman militer, sesuai protokol tertinggi bagi prajurit dan negarawan yang telah berjasa bagi bangsa. Almarhum akan dimakamkan di kawasan khusus pahlawan, sebagai pengakuan atas dedikasi selama lebih dari lima dekade di tubuh TNI.
Ryamizard Ryacudu dikenal sebagai sosok tegas, berprinsip, dan penuh integritas. Ia pernah menjadi rekan dekat Prabowo Subianto di Akademi Militer, dan kisah persahabatan mereka di Lembah Tidar menjadi legenda di kalangan militer. Kepulangannya bukan hanya duka keluarga, tapi juga kehilangan besar bagi institusi pertahanan dan bangsa yang kehilangan salah satu suara paling vokal dalam mempertahankan kedaulatan negara.















