Home Berita Nasional Indonesia Puncaki Produksi Beras Asia Tenggara, Peringkat Empat Dunia

Indonesia Puncaki Produksi Beras Asia Tenggara, Peringkat Empat Dunia

Sumbawanews.com,- Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan bahwa Indonesia berhasil menjadi produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan menempati posisi keempat teratas di dunia pada 2025, berdasarkan data resmi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Produksi beras nasional mengungguli negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina, serta hanya kalah dari India, Tiongkok, dan Bangladesh—tiga raksasa pertanian global.

Yang lebih mencengangkan, Indonesia justru menjadi satu-satunya negara di antara empat besar produsen beras dunia yang mencatatkan pertumbuhan produksi paling signifikan. Peningkatan produksi diperkirakan melampaui 4 juta ton, jauh di atas kenaikan India (1,7 juta ton), Brasil (1,5 juta ton), dan Bangladesh (1,1 juta ton). Kenaikan ini tak hanya mencerminkan keberhasilan kebijakan pertanian, tetapi juga ketahanan sistem logistik dan dukungan teknologi bagi petani di berbagai wilayah.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kinerja ini sejalan dengan peningkatan stok beras nasional. Cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog kini berada di atas 5,2 juta ton—melebihi kapasitas gudang resmi yang hanya mampu menampung 3 juta ton. Untuk menampung kelebihan stok, Bulog telah menyewa gudang tambahan seluas 2,2 juta ton. “Silakan lihat langsung gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia. Jangan hanya percaya kata-kata, tapi lihat buktinya,” tegas Amran.

FAO dalam laporan Food Outlook Juni 2026 memperkirakan stok beras Indonesia akan mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026, dan bisa meningkat hingga 7,8 juta ton pada 2026/2027. Angka ini menjadikan Indonesia tidak hanya mandiri, tetapi juga berpotensi besar menjadi eksportir beras strategis di masa depan.

Di sisi harga, inflasi beras yang sempat menyentuh 3,59 persen pada Mei 2024 kini telah stabil di angka 0,38 persen pada Mei 2026—dua tahun berturut-turut tidak menjadi penyumbang utama inflasi nasional. Kestabilan harga ini justru tidak merugikan petani. Sebaliknya, indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 mencapai 147,97, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan pun menyentuh 113,79, angka tertinggi sepanjang tahun ini, menandakan kesejahteraan petani yang semakin membaik.

FAO mencatat, Indonesia bersama Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina menjadi contoh sukses dalam menjaga keseimbangan antara harga produsen yang stabil dan insentif bagi petani untuk terus menanam padi. Sementara itu, negara-negara seperti Kamboja, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand justru mengalami penurunan produksi akibat perubahan iklim dan kurangnya dukungan infrastruktur.

Dengan produksi yang terus meningkat, stok yang melimpah, harga yang stabil, dan kesejahteraan petani yang membaik, Indonesia kini tidak lagi sekadar mengejar ketahanan pangan—tapi sedang membangun keunggulan strategis di sektor pangan global. Dengan kebijakan yang konsisten dan komitmen pada swasembada, masa depan beras Indonesia bukan lagi soal cukup untuk dalam negeri, tapi bagaimana menjadi penyangga pangan dunia.

Previous articleGolkar Bantah Tuduhan Candu Kekuasaan
Next articleMinyak Dunia Habis dalam 4 Pekan jika Hormuz Tertutup
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.