Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa cadangan minyak global bisa habis dalam waktu empat minggu jika Selat Hormuz tetap ditutup. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri KTT G7 di Prancis, di mana ia menekankan bahwa kelancaran jalur pelayaran strategis ini menjadi kunci stabilitas energi dunia.
“Kita akan kehabisan cadangan dalam waktu sekitar empat minggu. Ada stok di seluruh dunia, tapi kita benar-benar akan kehabisan—dan akan tiba saatnya Anda tidak bisa mendapatkannya,” ujar Trump, dikutip dari *The Hill*. Ia tidak secara spesifik menyebut apakah yang dimaksud adalah cadangan AS atau cadangan global, namun pemerintahnya tidak memberikan klarifikasi tambahan.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, merupakan arteri vital perdagangan minyak dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen konsumsi minyak global—atau sekitar 20 juta barel per hari—melewati jalur ini. Penutupan yang berkepanjangan telah memicu lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi di berbagai negara.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkuat kekhawatiran ini. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, meski pelepasan cadangan strategis telah membantu menstabilkan pasar, stok tersebut tidak bisa bertahan selamanya. “Jika gangguan pasokan berlanjut, persediaan komersial hanya cukup untuk beberapa pekan,” ujarnya.
Sejak konflik meletus, AS bersama negara-negara anggota IEA telah melepaskan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Pemerintahan Trump sendiri telah mengeluarkan 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS dalam periode 120 hari. Data terbaru menunjukkan, SPR kini menyisakan sekitar 340 juta barel—level terendah sejak 1983.
Trump menekankan bahwa tanpa akses bebas ke Selat Hormuz, kekacauan di pasar energi tidak bisa dihindari. “Apa yang dilakukan kesepakatan ini adalah memungkinkan kapal-kapal kembali berlayar. Jika kita terus melakukan pengeboman, kapal-kapal itu tidak akan berlayar,” tegasnya, merujuk pada upaya diplomasi AS-Iran untuk membuka kembali jalur tersebut.
Dengan ketergantungan global yang tinggi terhadap minyak Timur Tengah, ancaman penutupan Hormuz bukan sekadar isu geopolitik—ia adalah risiko nyata terhadap perekonomian dunia. Dan dalam peringatan Trump, waktu bukan lagi teman yang bisa diandalkan.















