Home Berita Nasional Emak-emak Misterius Nyuarakan Kekecewaan MBG di Depan BGN

Emak-emak Misterius Nyuarakan Kekecewaan MBG di Depan BGN

Sumbawanews.com,- Momen tak terduga terjadi di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) pada Rabu, 10 Juni 2026, saat aksi demonstrasi yang digelar Aliansi MBG Watch hampir berakhir. Tiba-tiba, seorang perempuan paruh baya mengendarai sepeda motor, menepi di tengah kerumunan, lalu berdiri di atas kendaraannya sambil berorasi dengan semangat membara. Ia tak dikenal, tak ada yang tahu asal-usulnya—hanya dikenal sebagai “emak-emak misterius” yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian.

Dengan suara lantang dan penuh emosi, ia mengecam program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang sedang menjadi sorotan akibat kasus korupsi di lingkungan BGN. “Sudah makanan MBG gak enak, bau tengik, gue cuma butuh duit, gak butuh MBG!” teriaknya, tanpa ragu, di hadapan puluhan aktivis yang terdiam, lalu bersorak.

Reaksi spontan pun muncul. Salah satu anggota Aliansi MBG Watch segera menghampiri, menyerahkan pengeras suara—seolah mengakui bahwa suara itu, meski tak terduga, adalah suara nyata dari rakyat kecil yang kecewa. Penonton di sekitar kantor BGN, termasuk pengendara yang melintas, berhenti sejenak. Banyak yang mengangkat ponsel, merekam momen langka itu: seorang ibu rumah tangga, bukan aktivis, bukan politisi, tapi warga biasa yang merasakan langsung kegagalan program negara.

Aksi ini terjadi di tengah gelombang protes yang sudah berlangsung sejak pagi. Aliansi MBG Watch menuntut penghentian sementara program MBG dan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelolanya, menyusul terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan Dadan Hindayana, mantan pejabat BGN, serta keterlibatan sejumlah nama lain, termasuk eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya yang kini menjadi justice collaborator dan menyebut 26 nama dalam BAP.

Namun, orasi sang emak-emak itu tak sekadar menambah narasi politik. Ia menyentuh inti yang sering diabaikan: program yang dirancang untuk kesejahteraan rakyat justru gagal menyentuh kebutuhan dasar mereka. Bukan soal korupsi besar-besaran yang diungkap KPK atau Kejagung—tapi soal nasi yang bau, lauk yang tak layak, dan harapan yang pupus karena janji tak terpenuhi.

Di tengah debat hukum dan kebijakan, ia menjadi simbol: suara yang tak terdengar di ruang rapat, tapi nyaring di jalan raya. Tak ada nama, tak ada jabatan—hanya seorang ibu yang berdiri di atas motor, mengatakan kebenaran sederhana yang sulit dibantah: “Kami butuh makan yang layak, bukan simbol yang bau.”

Kini, rekaman orasinya beredar luas di media sosial. Bukan karena keanehan, tapi karena kejujuran. Dan mungkin, itu yang paling berbahaya bagi sistem yang terlalu sering berbicara atas nama rakyat—tanpa pernah benar-benar mendengar mereka.

Previous articleKawat Berduri Dipasang di Kediaman Raja Solo
Next articleGempa M 4,1 Guncang Nias Barat, BMKG Sebut Akibat Megathrust
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.