Home Berita Nasional Desa Kawio Terisolasi, Rumah Rata Tanah Usai Gempa Filipina

Desa Kawio Terisolasi, Rumah Rata Tanah Usai Gempa Filipina

Sumbawanews.com,- Warga Desa Kawio, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, kini terperangkap dalam keheningan duka. Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada Senin pagi pukul 06.37 WIB, menghancurkan hampir seluruh rumah di desa terpencil itu—rata dengan tanah, tanpa korban jiwa, tapi dengan penderitaan yang tak terukur.

Sekretaris Desa Kawio, Risto Mandiangan, menggambarkan pemandangan yang memilukan: rumah-rumah kayu dan beton yang dulu jadi tempat bernaung, kini hanya tinggal puing-puing. “Semua warga keluar ke lapangan dan jalan kampung. Tidak ada yang tertimpa bangunan, tapi rumah-rumah kami hilang. Habis,” ujarnya dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.

Desa yang dihuni 178 kepala keluarga atau 480 jiwa ini, sebagian besar nelayan, kini hidup di bawah langit terbuka. Gempa susulan terus mengguncang, membuat warga tak berani kembali ke rumah. Akses jalan satu-satunya menuju ibu kota kabupaten memakan waktu sehari semalam—ditempuh dengan perahu dan jalan berlumpur yang kini rusak parah. “Kami terisolasi. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal, tidak ada bantuan,” kata Risto.

Dengan persediaan makanan habis, obat-obatan terbatas, dan pakaian basah kuyup akibat hujan, warga hanya bisa berharap. “Kami hanya bisa meratapi. Tidak bisa berbuat apa-apa. Kami butuh makanan, obat, selimut, air bersih—apa saja yang bisa menyelamatkan hidup kami.”

Risto menyerukan bantuan segera dari pemerintah pusat dan daerah. “Kami berada di perbatasan, jauh dari pusat. Tapi kami juga bagian dari Indonesia. Presiden, gubernur, bupati—tolong dengar suara kami. Jangan biarkan Kawio tenggelam dalam kelupaan.”

Gempa yang berpusat di Filipina ini juga memicu peringatan tsunami di tiga wilayah Indonesia, termasuk Sangihe. Meski gelombang besar tidak terjadi, kepanikan dan kerusakan infrastruktur membuat kondisi warga semakin kritis. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe telah mengaktifkan posko darurat, namun logistik belum mampu menjangkau Kawio yang terpencil.

Di tengah keheningan desa yang kehilangan rumah, satu hal masih utuh: semangat warganya. Mereka saling menolong, berbagi makanan, dan berdoa bersama di bawah langit yang masih bergetar. Tapi tanpa bantuan nyata, harapan itu bisa saja lenyap bersama ombak laut yang menghantam pantai.

Kawio bukan sekadar nama desa. Ia adalah simbol ketahanan masyarakat pinggiran yang menanti diujung dunia—dengan harapan bahwa Indonesia tidak melupakan mereka.

Previous articleChatGPT Pasang Darurat Keamanan
Next articleKPK Panggil Dua Tersangka Korupsi Kuota Haji
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.