Sumbawanews.com,- Sepekan terakhir, Indonesia diguncang rangkaian bencana hidrometeorologi basah yang melanda sejumlah wilayah, menimbulkan dampak luas bagi ribuan jiwa. Berdasarkan data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), cuaca ekstrem yang berkelanjutan memicu banjir, banjir bandang, dan genangan parah yang merendam permukiman, infrastruktur, hingga lahan pertanian.
Di Sumatera Utara, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Deli Serdang pada Kamis (28/5/2026) menyebabkan 94 rumah rusak dan 348 warga terdampak. Sementara itu, di Kota Manado, Sulawesi Utara, banjir akibat curah hujan tinggi pada Rabu (27/5) mengakibatkan 968 jiwa terdampak, dengan 747 orang terpaksa mengungsi dan 468 unit rumah terendam air.
Kondisi memburuk di Gorontalo, di mana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Gorontalo Utara pada Selasa (26/5) menelan korban lebih dari tiga ribu jiwa. Sebanyak 3.524 warga terdampak, 724 rumah rusak, tiga rumah hanyut, dan 20 lainnya mengalami kerusakan berat. Di Sulawesi Selatan, banjir di Luwu Utara yang terjadi sejak 13 Mei lalu masih belum surut. Hingga kini, 13.114 jiwa dari 3.685 kepala keluarga terdampak, dengan 14 warga masih bertahan di tempat evakuasi. Curah hujan sedang hingga tinggi terus menghantam wilayah itu, mempersulit upaya pemulihan.
Di Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Barat menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak. Banjir yang melanda sejak 18 Mei menggenangi 15.258 jiwa dari 4.748 keluarga, dengan 3.116 rumah rusak. Hingga kini, air belum sepenuhnya surut, dan masyarakat masih hidup dalam ketidakpastian.
BNPB terus memantau perkembangan di lapangan, sambil memperbarui data kerusakan dan kebutuhan mendesak. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menekankan bahwa pola cuaca ekstrem ini tidak lagi bersifat insidental, melainkan tren yang perlu direspons sistematis oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana ini sejalan dengan prediksi BMKG yang mengingatkan potensi El Nino dan siklon tropis yang masih mengintai hingga pertengahan tahun. Di tengah upaya tanggap darurat, para ahli memperingatkan bahwa kerentanan lingkungan dan kurangnya tata kelola ruang menjadi akar masalah yang harus diatasi secara jangka panjang.
Ribuan warga kini hidup dalam bayang-bayang banjir yang berulang, sementara pemerintah di tingkat daerah berjuang mengoordinasikan bantuan, evakuasi, dan rehabilitasi. Di tengah ketidakpastian cuaca, satu hal jelas: kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, tapi keharusan.















