Sumbawanews.com,- Jenderal Francis Donovan, komandan tertinggi Komando Selatan Amerika Serikat, bertemu dengan Letnan Jenderal Roberto Legrá Sotolongo dan sejumlah pejabat tinggi Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba di pangkalan militer AS di Teluk Guantanamo pada Jumat, 29 Mei 2026. Pertemuan langka ini berfokus pada isu keamanan bersama, khususnya terkait stabilitas perimeter militer yang memisahkan wilayah kedua negara—meski hubungan diplomatik antara Washington dan Havana tetap tegang.
Pertemuan ini terjadi di tengah tekanan keras pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Kuba. Sejak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu, Trump secara terbuka menyatakan Kuba sebagai “target selanjutnya.” Kebijakan agresif pun berlanjut: blokade minyak diperketat, kapal perang dikerahkan di Laut Karibia, dan mantan Presiden Kuba Raúl Castro—yang kini berusia 94 tahun—didakwa secara federal oleh otoritas AS atas tuduhan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, di balik retorika keras, saluran komunikasi militer tetap dibuka. Dalam pernyataan resmi, Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba menyebut pertemuan tersebut “dipandang positif” karena berhasil memperkuat koordinasi keamanan di zona perbatasan militer dan menegaskan komitmen untuk menjaga saluran komunikasi tetap aktif antara kedua komando.
Donovan juga meninjau kesiapan operasional pangkalan Guantanamo, termasuk keselamatan personel dan keluarga mereka. Komando Selatan AS menekankan bahwa keberadaan pangkalan ini—yang tetap beroperasi meski ditentang keras oleh pemerintah Kuba selama lebih dari enam dekade—tetap menjadi elemen strategis dalam kebijakan keamanan regional.
Di sisi lain, upaya diplomatik tingkat tinggi juga berjalan paralel. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Direktur CIA John Ratcliffe juga telah melakukan kontak dengan pejabat Kuba, mencoba membuka celah untuk normalisasi hubungan. Namun, respons Washington tetap konservatif: sanksi ekonomi dan hukum justru diperluas, bukan dicabut.
Pentagon baru-baru ini mengumumkan penempatan unit baru berisi 1.300 pelaut dan Marinir untuk menggantikan Unit Ekspedisi Marinir ke-22 yang dikerahkan musim panas lalu. Meski kekuatan militer AS di Karibia masih jauh di bawah skala operasi yang dilancarkan terhadap Venezuela, kehadiran mereka tetap menjadi simbol tekanan strategis terhadap pemerintahan sosialis di Havana.
Pertemuan ini bukanlah tanda perubahan kebijakan besar, tetapi sebuah sinyal halus: meski politik berbicara dengan ancaman, militer tetap memilih dialog untuk mencegah eskalasi yang tak terkendali. Di sebuah pulau yang menjadi simbol ketegangan abadi, dialog tetap hidup—meski hanya di balik pagar kawat berduri.















