Sumbawanews.com,- Belarus secara resmi mengajukan permintaan pasokan komoditas pertanian strategis dari Indonesia, yakni 14.000 ton minyak sawit mentah (CPO) dan 120.000 ton kakao per tahun. Permintaan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian dan Pangan Belarus, Yuri Gorlov, bersama putra Presiden Alexander Lukashenko, Dmitry Lukashenko, dalam pertemuan bilateral di Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026.
Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengonfirmasi bahwa permintaan tersebut mencakup kebutuhan kakao sekitar 10.000 ton per bulan, atau setara 120.000 ton per tahun. Menurut Amran, permintaan ini bukan sekadar transaksi perdagangan, tetapi pintu pembuka kerja sama jangka panjang yang berpotensi memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok utama komoditas pertanian di pasar global.
Dalam pertemuan yang menjadi yang kedua kalinya sejak diskusi awal pada Desember 2025, kedua belah pihak sepakat bahwa kebutuhan kakao dari Belarus bisa menjadi jembatan bagi ekspansi ekspor Indonesia ke kawasan Eropa. Untuk mendukung ketersediaan pasokan, pemerintah Indonesia berencana mempercepat program penanaman kakao skala besar di sejumlah daerah penghasil, dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan keberlanjutan.
Selain perdagangan komoditas, kerja sama bakal meluas ke bidang mekanisasi pertanian. Belarus, yang dikenal memiliki keunggulan dalam produksi mesin pertanian berat, diharapkan dapat berkontribusi dalam modernisasi sistem pertanian Indonesia. Kemitraan ini akan dijalankan melalui pendekatan ganda: antara pemerintah (G2G) dan pelaku usaha (B2B), dengan harapan terjadi transfer teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor pertanian dalam negeri.
Amran menekankan bahwa kesepakatan ini mencerminkan kepercayaan Belarus terhadap kualitas dan konsistensi pasokan Indonesia. Kedua negara pun menunjukkan optimisme bahwa kerja sama ini akan berkembang menjadi kemitraan holistik, mencakup investasi, teknologi, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor komoditas, tetapi juga mitra strategis yang mampu memenuhi kebutuhan spesifik pasar internasional dengan solusi berkelanjutan.















