Sumbawanews.com,- Tangerang – Sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla telah tiba di Indonesia setelah diculik oleh militer Israel. Mereka menceritakan pengalaman penyiksaan, kelaparan, dan dehidrasi selama ditahan.
Hendro Prasetyo, salah satu aktivis, mengungkapkan bahwa mereka melakukan mogok makan selama tiga hingga lima hari karena tidak mempercayai makanan dan minuman yang diberikan oleh Israel. “Prinsip kami, segala yang mereka berikan itu semuanya adalah penderitaan. Kami tidak tahu apakah mengandung racun atau tidak,” ujarnya.
Andre Prasetyo, jurnalis TV Tempo yang juga ikut dalam misi tersebut, menambahkan bahwa mereka hanya diberikan air keran yang dibagi untuk 30 orang. “Per orang hanya minum tiga kali teguk,” katanya.
Selain kelaparan dan dehidrasi, para aktivis juga mengalami kekerasan fisik. Andre menceritakan bahwa temannya dari Eropa ditembak dengan peluru karet, dan mereka dibangunkan dengan suara ledakan. Tangannya juga memar akibat diikat dengan kabel ties secara paksa.
Meski mengalami penderitaan, Andre menyatakan bahwa hal tersebut tidak sebanding dengan apa yang dialami rakyat Palestina. “Jadi jangan lupa untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina. Saya meminta kepada pemerintah untuk terus mengupayakan proses diplomasi,” ucapnya.















