Beijing, sumbawanews.com – Jiang Bin, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional China, dalam konferensi pers pada hari Rabu (11/03) mengatakan, kekuatan sayap kanan di Jepang telah sering melakukan langkah-langkah untuk mempercepat remiliterisasi. Termasuk dorongan untuk mengubah Konstitusi pasifis, mempercepat revisi tiga dokumen keamanan nasional, dan upaya untuk mengubah tiga prinsip non-nuklir.
Baca Juga: Menlu Tiongkok Tentang Perang Iran: Tidak Menguntungkan Siapapun
Dan Sekarang, dengan rencana pengerahan senjata ofensif jarak jauh yang jangkauannya jauh melebihi batas wilayahnya, Jepang telah sepenuhnya menanggalkan kepura-puraan prinsip “berorientasi pertahanan eksklusif”, strategi “pertahanan pasif”, dan kebijakan “pertahanan diri”.
Ia menekankan, hal ini menunjukkan betapa neo-militerisme di Jepang telah menjadi lebih dari sekadar kecenderungan berbahaya. Tetapi ancaman nyata yang dapat merusak perdamaian dan keamanan regional.
“Kami memperingatkan pihak Jepang bahwa kembali ke jalan lama militerisme yang agresif tidak akan membawa ke mana pun selain kehancuran diri sendiri. Jika Jepang berani melanggar kedaulatan dan keamanan Tiongkok dengan kekerasan, mereka pasti akan menghadapi pukulan telak dan menderita kekalahan yang lebih besar,” tegasnya. (Using)















