Sumbawanews.com,- Dalam serangan berdampak strategis yang memperlihatkan perubahan signifikan dalam taktik perang, Ukraina berhasil menghancurkan dua pesawat patroli maritim Tu-142 milik Rusia di pangkalan udara Taganrog, dekat Laut Azov. Serangan yang dilancarkan menggunakan drone ini tidak hanya merusak aset militer langka, tetapi juga mengguncang salah satu tulang punggung pertahanan maritim Moskow dalam menghadapi ancaman kapal selam NATO.
Tu-142, pesawat berbasis Soviet yang dirancang khusus untuk mendeteksi, melacak, dan menyerang kapal selam musuh, merupakan salah satu dari sedikit sistem yang masih aktif dalam armada anti-kapal selam Rusia. Dengan jangkauan operasional hingga ribuan kilometer dan kemampuan memantau lautan Arktik serta Atlantik Utara, pesawat ini menjadi mata dan telinga strategis Moskow dalam memantau gerakan armada bawah laut NATO—terutama di wilayah yang menjadi medan persaingan geopolitik utama.
Rekaman yang beredar menunjukkan dua unit Tu-142 hancur di landasan, terbakar setelah serangan drone yang akurat. Tidak ada laporan korban jiwa, tetapi kerusakan pada aset ini jauh lebih berarti daripada sekadar kehilangan pesawat. Sejak produksi Tu-142 dihentikan puluhan tahun lalu, Rusia tidak mampu membangun pengganti yang setara. Jumlah unit yang masih beroperasi diperkirakan kurang dari 10, sehingga kehilangan dua unit sekaligus memperlemah kapasitas patroli maritim Rusia dalam jangka panjang.
Media Jerman _Der Spiegel_ menilai serangan ini bukan sekadar operasi taktis, melainkan pukulan strategis yang mengancam keseimbangan kekuatan maritim Rusia. “Ini adalah pukulan sensitif yang menyentuh kemampuan inti Rusia untuk menghadapi NATO di laut,” tulis laporan itu, menekankan bahwa kelemahan dalam pengawasan bawah laut bisa membuka celah bagi operasi NATO di perairan strategis.
Serangan ini juga mencerminkan evolusi perang Ukraina: dari pertahanan di garis depan menjadi ofensif jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi drone murah namun mematikan. Presiden Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa serangan ini adalah respons logis terhadap agresi Rusia. “Kami secara sah membawa perang kembali ke tempat asalnya,” ujarnya, menegaskan bahwa target militer Rusia di dalam negeri kini menjadi bagian dari strategi pertahanan Ukraina.
Para analis militer menyatakan bahwa serangan terhadap Tu-142 menandai peralihan dari perang konvensional ke perang asimetris yang berfokus pada penghancuran infrastruktur strategis—bukan hanya pasukan di garis depan, tetapi sistem pendukung yang membuat kekuatan militer Rusia tetap beroperasi. Dengan menghancurkan kemampuan pengawasan maritim, Ukraina tidak hanya mengganggu operasi Rusia di Ukraina, tetapi juga melemahkan posisi Moskow dalam konfrontasi strategis jangka panjang dengan aliansi Atlantik.
Kehilangan Tu-142 juga membuka pertanyaan besar: seberapa siap Rusia menghadapi ancaman baru dalam perang modern—di mana senjata murah dan canggih dari jarak jauh mampu menghancurkan aset mahal yang selama ini dianggap aman di dalam wilayah domestik. Untuk Moskow, ini bukan hanya soal kehilangan pesawat. Ini adalah peringatan bahwa dominasi laut yang selama ini diandalkan kini rentan terhadap serangan dari udara yang tak terduga.















