
Sumbawanews.com,- Jakarta – Pemerintah Uganda telah menutup sementara perbatasannya dengan Republik Demokratik Kongo selama empat minggu sebagai langkah darurat untuk mencegah penyebaran wabah Ebola. Langkah ini diambil setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi tujuh kasus infeksi, termasuk satu kematian, di wilayah barat negara itu.
Ribuan orang kini sedang dipantau secara ketat oleh tim medis setempat, terutama mereka yang memiliki riwayat kontak dekat dengan pasien terkonfirmasi. Pemerintah juga telah mengaktifkan sistem pelacakan kontak, memperkuat pos pemeriksaan kesehatan di titik-titik masuk utama, serta memulai kampanye edukasi publik tentang tanda-tanda awal Ebola dan protokol pencegahan.
Wabah ini muncul di wilayah yang berdekatan dengan DRC, negara yang sebelumnya pernah mengalami beberapa gelombang wabah Ebola besar, termasuk yang terburuk dalam sejarah global pada 2018–2020. Meski belum ada kasus yang terdeteksi di sisi Uganda, otoritas khawatir mobilitas lintas batas yang tinggi dapat mempercepat penyebaran virus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dukungan penuh terhadap respons Uganda dan sedang mengirimkan pasokan vaksin, alat pelindung diri, serta tim ahli epidemiologi. Vaksin rVSV-ZEBOV, yang terbukti efektif dalam wabah sebelumnya, mulai didistribusikan ke daerah rawan.
Presiden Uganda, Yoweri Museveni, menegaskan bahwa pemerintah “tidak akan mengambil risiko” terhadap kesehatan masyarakat. “Kita harus bertindak cepat, tegas, dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Pemerintah juga mengimbau warga untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan segera melaporkan gejala seperti demam mendadak, muntah, atau pendarahan ke fasilitas kesehatan terdekat. Sementara itu, sejumlah negara tetangga mulai memperketat pengawasan kesehatan di bandara dan pelabuhan, sebagai langkah pencegahan dini.














