Sumbawanews.com,- Bangkok — Setelah puluhan tahun terkubur di bawah air, stasiun kereta api bersejarah bernama Nithe muncul kembali di permukaan tanah, menjadi saksi bisu kekejaman Perang Dunia II. Lokasinya, di Provinsi Kanchanaburi, Thailand, dulunya adalah bagian dari Jalur Kereta Api Kematian—proyek pembangunan yang menelan ribuan nyawa tawanan perang dan pekerja paksa di bawah kekuasaan Jepang.
Kemunculan stasiun ini bukan kebetulan. Otoritas Pembangkit Listrik Thailand sengaja mengeringkan Waduk Bendungan Vajiralongkorn untuk melakukan pemeliharaan rutin. Air yang surut hingga mencapai titik terendah dalam beberapa dekade memperlihatkan struktur beton, rel berkarat, dan sisa-sisa bangunan yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan danau. Bagi para sejarawan, ini adalah kesempatan langka—sebelum air kembali menggenangi lokasi pada Agustus mendatang.
Tim peneliti dari berbagai negara, termasuk Australia, segera berdatangan. Salah satunya Martyn Fryer, yang datang bukan hanya sebagai ilmuwan, tapi juga sebagai cucu dari seorang tawanan perang Sekutu yang tewas di jalur ini. Dengan detektor logam di tangan, ia menemukan paku rel, pasak jembatan, dan benda-benda pribadi yang hampir terlupakan: sisa-sisa kehidupan yang terpotong oleh perang.
Stasiun Nithe adalah salah satu dari 14 stasiun yang dibangun di sepanjang 415 kilometer Jalur Kereta Api Kematian, yang menghubungkan Thailand dengan Myanmar. Dibangun antara 1942 dan 1943, proyek ini memaksa 60.000 tawanan Sekutu dan sekitar 200.000 pekerja Asia—kebanyakan dari Indonesia, Malaysia, dan Burma—bekerja dalam kondisi mengerikan: kelaparan, penyakit, kekerasan, dan jam kerja hingga 18 jam sehari. Lebih dari 12.500 tawanan perang dan 75.000 pekerja lokal tewas sebelum jalur ini selesai.
Kini, reruntuhan stasiun itu menjadi magnet bagi ratusan wisatawan Thailand yang datang untuk menyaksikan langsung jejak sejarah yang selama ini hanya mereka kenal dari buku atau film. Karya-karya seperti *The Bridge on the River Kwai* (1957) dan *The Railway Man* (2013) telah mengabadikan penderitaan ini, tapi menyaksikan sisa-sisa fisiknya—dinding retak, rel yang bengkok, dan platform yang hampir hancur—membuat sejarah itu terasa nyata, tak lagi sekadar narasi.
“Ini bukan hanya reruntuhan,” kata seorang arkeolog Thailand yang ikut dalam tim eksplorasi. “Ini adalah makam tanpa nisan. Setiap paku, setiap batu, adalah suara dari mereka yang tidak bisa berbicara lagi.”
Pemerintah Thailand belum memutuskan nasib situs ini. Apakah akan dipugar sebagai monumen, atau dibiarkan kembali tenggelam—sebagai pengingat bahwa alam pun bisa menjadi penjaga ingatan.
Sementara itu, di bawah terik matahari Kanchanaburi, angin berhembus lembut di atas rel yang dulu menjadi jalan kematian. Sekarang, ia membawa suara langkah kaki para pengunjung—yang datang bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk berdiri diam, dan mengingat.















