Sumbawanews.com,- Kamar tidur Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, menjadi sasaran tembakan tak dikenal pada dini hari Minggu (14/6/2026). Peluru menghantam jendela kamar di rumah dinasnya di Lubuk Pakam, menghancurkan kaca dari luar, meninggalkan lubang bulat yang jelas menandakan serangan dari jarak jauh.
Kepala Seksi Humas Polresta Deli Serdang, Iptu JM Gabe Napitupulu, mengonfirmasi bahwa tim telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menemukan dua serpihan kaca pecah yang diduga akibat tembakan. Meski belum ada korban jiwa, insiden ini dianggap sebagai bentuk intimidasi serius terhadap pejabat publik.
Lom Lom, yang juga politikus Gerindra, mengatakan ia baru pulang dari kegiatan di Kecamatan STM Hulu saat kejadian terjadi sekitar pukul 00.30 WIB. “Saya langsung melihat kaca jendela pecah dari luar, bentuknya bulat — bukan akibat kecelakaan atau benda jatuh. Ini jelas upaya ancaman,” ujarnya.
Ia segera melaporkan kejadian itu ke polisi, menilai insiden ini bukan kebetulan, melainkan pesan tersembunyi yang ditujukan padanya. Hingga kini, polisi masih menyelidiki identitas pelaku dan motif di balik serangan tersebut.
Kasus ini memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat dan pejabat daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, Deli Serdang memang menjadi sorotan akibat sejumlah kasus kekerasan terhadap figur publik, termasuk ancaman dan penembakan yang tidak jarang terjadi tanpa jejak jelas.
Kepolisian meminta masyarakat tidak menyebarkan spekulasi sebelum penyelidikan selesai. “Kami sedang memproses semua kemungkinan, termasuk kaitan dengan dinamika politik lokal. Tapi kami belum bisa menyimpulkan apa pun sebelum bukti lengkap terkumpul,” tegas Gabe.
Lom Lom Suwondo, yang menjabat sebagai Wakil Bupati Deli Serdang sejak 2021 dan kembali terpilih dalam Pilkada 2024, menjadi salah satu tokoh kunci dalam pemerintahan daerah yang kerap bersuara tegas terhadap korupsi dan ketidakadilan.
Insiden ini kini menjadi sorotan nasional, mengingat semakin mengkhawatirkan tren kekerasan terhadap pejabat pemerintah daerah yang dianggap “berani” menegakkan aturan. Pemerintah provinsi Sumatera Utara pun diminta segera merespons dengan langkah nyata, bukan sekadar pernyataan sikap.
Sementara itu, warga sekitar rumah dinas terus memantau perkembangan kasus, sebagian mengaku takut, sebagian lagi berharap keadilan benar-benar ditegakkan — tanpa tekanan atau intervensi.















