Sumbawanews.com,- Di tengah hamparan pedesaan negara bagian Maharashtra, India, berdiri Shetpal—sebuah desa kecil yang tak biasa. Di sini, ular kobra bukanlah makhluk yang ditakuti, melainkan dewa yang dihormati. Ribuan tahun tradisi, keyakinan spiritual, dan kearifan lokal telah menciptakan harmoni langka antara manusia dan salah satu hewan paling mematikan di dunia.
Ular-ular kobra berjalan bebas di halaman rumah, di teras, bahkan di jalan desa yang ramai oleh aktivitas warga. Tidak ada jebakan, tidak ada racun, tidak ada upaya mengusir. Sebaliknya, penduduk Shetpal membangun tempat khusus di rumah mereka—biasanya di sudut yang tenang—untuk menjadi tempat beristirahat para ular. Mereka percaya bahwa kobra adalah perwujudan dari Naga, dewa ular dalam kepercayaan Hindu, yang membawa perlindungan dan berkah bagi keluarga.
Tradisi ini tak lahir dari keberanian buta, melainkan dari warisan turun-temurun yang dijaga ketat. Setiap tahun, saat perayaan Nag Panchami, warga mempersembahkan susu, bunga, dan doa kepada ular-ular itu. Ritual ini bukan sekadar simbol; ia adalah jembatan antara dunia manusia dan alam gaib yang diyakini masih hidup di sekitar mereka.
Meski terkesan romantis, kehidupan di Shetpal bukan tanpa risiko. Kobra adalah salah satu ular paling berbisa di dunia. Namun, warga menekankan bahwa keheningan dan ketenangan adalah kunci bertahan. Mereka mengajarkan anak-anak sejak kecil: jangan bergerak tiba-tiba, jangan memegang, jangan mengganggu. Jika melihat ular, biarkan ia lewat. Kehidupan berjalan normal—tanpa kepanikan, tanpa kekerasan.
Pengunjung yang datang pun diharuskan mematuhi aturan tak tertulis ini. Sepatu tertutup wajib dipakai, terutama saat berjalan di malam hari. Tidak ada selfie dengan ular. Tidak ada upaya menangkap atau memperlihatkan kegembiraan berlebihan. Menghormati ular berarti menghormati nenek moyang, agama, dan ekosistem yang telah menjaga keseimbangan selama berabad-abad.
Shetpal bukan sekadar desa unik. Ia adalah bukti bahwa ketakutan bisa berubah menjadi kekaguman—jika manusia mau belajar mendengar, bukan menguasai. Di dunia yang sering memilih menghilangkan yang “berbahaya”, Shetpal memilih memeluknya. Dan dalam penerimaan itu, ia menemukan ketenangan yang tak ternilai.















