Sumbawanews.com,- Prancis mencatat 7.307 kematian berlebih sepanjang 2026 akibat gelombang panas ekstrem yang berlangsung berturut-turut sejak Juni, dengan tiga gelombang utama yang memecahkan rekor durasi dan intensitas. Badan kesehatan masyarakat Santé Publique France melaporkan angka tersebut pada 19 Agustus, terdiri dari 5.764 kematian selama 17–30 Juni, 1.243 kematian pada 2–22 Juli, dan 300 kematian pada akhir Mei. Total hari gelombang panas mencapai 52 hari sejak pertengahan Juni, menjadikan 2026 sebagai tahun dengan periode panas terpanjang sejak pencatatan dimulai pada 1947. Gelombang panas terakhir yang berlangsung 22 hari hingga 18 Agustus menjadi yang terpanjang kedua dalam sejarah nasional, hanya selisih satu hari dari rekor 1983.
Data dari Meteo-France menunjukkan bahwa suhu rata-rata nasional mencapai 30°C pada 24–25 Juni, melampaui rekor sebelumnya pada 2003. Tiga gelombang panas tahun ini—14 hari di Juni, 16 hari di Juli, dan 22 hari mulai akhir Juli—berlangsung tanpa jeda signifikan, dengan hanya dua periode istirahat masing-masing tiga dan delapan hari. Wilayah-wilayah yang minim akses pendingin udara menjadi paling rentan, sementara kondisi ini terjadi dalam konteks Eropa Barat yang mengalami awal musim panas terpanas dalam catatan sejarah.
Gelombang panas 2026 melebihi durasi total gelombang panas 2022 yang sebelumnya menjadi tahun terburuk, dan meski tidak separah 2003 dalam hal intensitas tunggal, jumlah kematian berlebih tahun ini menjadi yang tertinggi sejak dekade terakhir. Definisi resmi gelombang panas Prancis mensyaratkan suhu nasional tetap di atas 23,4°C selama tiga hari berturut-turut, dan periode panas di Mei tidak memenuhi ambang batas ini. Sebanyak lebih dari separuh dari 54 gelombang panas yang pernah tercatat di Prancis sejak 1947 terjadi setelah 2010, menunjukkan tren peningkatan frekuensi dan durasi suhu ekstrem akibat perubahan iklim.















