Sumbawanews.com,- Hui Ka Yan, pendiri perusahaan properti Evergrande dan mantan pemilik klub sepak bola Guangzhou Evergrande, dihukum penjara seumur hidup oleh pengadilan China pada April 2026 setelah mengaku bersalah atas delapan dakwaan berat, termasuk penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, penghimpunan dana publik ilegal, penyaluran pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas palsu, dan penyuapan. Pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadinya yang diperkirakan mencapai miliaran dolar. Hui pernah membangun Guangzhou Evergrande menjadi kekuatan sepak bola Asia, tetapi kejatuhan finansial perusahaannya membawa klub itu dari puncak ke jurang degradasi.
Pada 2010, Hui membeli Guangzhou Football Club yang sedang terpuruk akibat skandal pengaturan skor, lalu mengubah namanya menjadi Guangzhou Evergrande Football Club. Dengan dana tak terbatas dari kekayaan propertinya, ia mengubah klub medioker menjadi raksasa domestik dan benua. Dari 2011 hingga 2019, Guangzhou Evergrande meraih tujuh gelar juara Liga Super China, termasuk dua trofi Liga Champions Asia pada 2013 dan 2015. Klub ini bahkan mencatatkan sejarah dengan menempati peringkat keempat di Piala Dunia Antarklub pada masa kejayaannya.
Kesuksesan itu dibangun dengan investasi gila-gilaan: mendatangkan pelatih legendaris seperti Marcelo Lippi, Fabio Cannavaro, dan Luiz Felipe Scolari, serta bintang-bintang dunia seperti Paulinho, Robinho, dan Alberto Gilardino. Pemain nasional China seperti Zheng Zhi dan Sun Xiang juga menjadi tulang punggung tim. Namun, ketika Evergrande Group runtuh akibat krisis utang yang melanda China, pendanaan klub terputus. Guangzhou Evergrande terdegradasi, dan pada akhirnya kembali menggunakan nama lama: Guangzhou Football Club.
Hui Ka Yan, yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Asia, kini mengakhiri hidupnya dalam tahanan, sementara klub yang ia bangun dari nol menjadi simbol kejayaan yang sirna bersama kejatuhan imperium propertinya.















