Sumbawanews.com,- Paus Leo XIV tiba di Barcelona dengan sambutan yang tak biasa: sebuah menara manusia setinggi sepuluh meter yang berdiri tegak di tengah alun-alun kota, dibangun oleh lebih dari seratus warga Catalonia dalam tradisi berabad-abad yang dikenal sebagai *castells*.
Kehadiran Paus, yang baru saja menyelesaikan tur pastoral di Spanyol, menjadi momen langka—bukan hanya karena ia adalah pemimpin spiritual umat Katolik dunia, tetapi juga karena tradisi *castells* biasanya dipertunjukkan dalam perayaan lokal, festival, atau acara kebanggaan budaya, bukan untuk tokoh asing, apalagi seorang Paus.
Ribuan orang berdiri dalam diam, lalu bersorak saat puncak menara—seorang anak kecil berbaju putih—mengangkat tangan sebagai tanda keberhasilan. Paus, yang mengenakan mantel putih dan mitra emas, tersenyum lebar, lalu mengangkat tangan dalam berkat. Ia kemudian berjalan perlahan mendekati menara, menyentuh salah satu lengan bawah dari para pendukung yang berdiri di dasar, seolah menghormati keberanian dan kekompakan mereka.
Tradisi *castells*—yang berarti “menara”—berasal dari abad ke-18 di wilayah Catalonia dan telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Setiap menara dibangun secara hierarkis: dasar yang kuat dari para *pinya*, lalu lapisan bertahap yang disebut *folre* dan *manilles*, hingga puncak yang dihuni oleh *davanters*, anak-anak yang paling ringan dan paling berani.
“Ini bukan sekadar akrobatik,” kata Joan Miró, seorang pembina *castells* berusia 68 tahun yang ikut membangun menara itu. “Ini adalah simbol kepercayaan. Setiap orang percaya bahwa orang di atasnya tidak akan jatuh—dan orang di atasnya percaya bahwa orang di bawahnya akan menahan mereka. Itu adalah iman, dalam bentuk tubuh.”
Paus Leo XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Lorenzo Vargas dari Argentina, menjadi Paus pertama yang menyaksikan langsung *castells* dalam kunjungan resminya. Ia menyebutnya sebagai “keindahan manusia yang tak terucapkan” dalam pidato singkatnya setelah acara.
Kunjungan ini menandai babak baru dalam hubungan antara Gereja Katolik dan budaya lokal Spanyol—di mana tradisi rakyat, yang dulu kerap dianggap sekuler, kini diakui sebagai bentuk ekspresi spiritual yang autentik.
Di tengah hiruk-pikuk politik global dan ketegangan sosial, Barcelona malam itu menjadi bukti: kekuatan manusia bukan hanya dalam doa, tapi juga dalam kepercayaan satu sama lain—dengan tangan, kaki, dan hati yang saling menopang.

















