Sumbawanews.com,- Beirut – Seorang penjaga perdamaian PBB gugur setelah mortir menghantam posisinya di Lebanon selatan, tepat di wilayah yang sebelumnya menjadi lokasi gugurnya prajurit TNI. Insiden ini terjadi pada Rabu malam, dekat Marjayoun, dan memicu kekhawatiran baru atas meningkatnya ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon.
UNIFIL, misi perdamaian PBB di kawasan itu, mengonfirmasi kematian satu personel akibat luka-luka serius yang dideritanya setelah serangan mortir. Dua anggota lainnya terluka dan sedang mendapat perawatan intensif di rumah sakit Beirut. Meski belum mengungkap identitas korban, UNIFIL menegaskan penyelidikan sedang berlangsung untuk menentukan sumber serangan.
Wilayah ini menjadi titik rawan yang sama tempat markas kontingen TNI di Adshit al-Qusayr menjadi sasaran serangan artileri pada akhir Maret 2026. Saat itu, Praka Farizal Rhomadhon gugur, dan sejumlah prajurit lainnya terluka, memicu kemarahan resmi dari pemerintah Indonesia dan kecaman internasional dari PBB.
Sejak saat itu, ketegangan di Lebanon selatan tak kunjung mereda. Menurut juru bicara PBB Farhan Haq, dalam tiga hari terakhir, pasukan UNIFIL mencatat lebih dari 1.296 proyektil yang diluncurkan oleh Pasukan Pertahanan Israel, serta 64 proyektil dari Hizbullah. Aktivitas militer yang intens ini membuat posisi penjaga perdamaian—yang seharusnya netral—berada di garis depan konflik tanpa perlindungan memadai.
Kawasan Marjayoun, yang menjadi basis operasi UNIFIL di Sektor Timur, kini berubah menjadi medan perang yang semakin berbahaya. Pasukan dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Prancis, telah menjadi korban dalam serangan yang tak kunjung reda. Meski UNIFIL tidak secara eksplisit menyalahkan pihak tertentu, fakta bahwa serangan terus terjadi di sekitar posisi mereka menunjukkan bahwa zona demiliterisasi yang seharusnya dijaga PBB kini hampir tak lagi ada.
PBB dan pemerintah-pemerintah anggota terus menyerukan gencatan senjata segera, namun di lapangan, tembakan mortir dan artileri tetap menggema di lembah-lembah selatan Lebanon. Bagi keluarga korban dan rekan-rekan sesama penjaga perdamaian, setiap ledakan bukan sekadar berita—ia adalah pengingat bahwa misi perdamaian kini berjalan di atas ranjau yang tak terlihat.

















