Sumbawanews.com,- Jakarta – Keributan hebat terjadi di salah satu pantai utara Israel ketika roket-roket Hezbollah meluncur dari Lebanon, memicu kepanikan massal di kalangan wisatawan dan warga setempat. Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan ratusan orang berlarian ke tempat perlindungan, meninggalkan payung pantai, handuk, dan mainan anak-anak di belakang mereka, saat ledakan-ledakan mengguncang udara di kejauhan.
Ini adalah serangan pertama dari Lebanon ke kota Nahariya dalam tiga minggu terakhir. Meski tidak ada laporan korban jiwa, sejumlah bangunan di dekat pantai mengalami kerusakan ringan akibat puing-puing roket yang jatuh tak jauh dari area ramai. Pihak berwenang Israel segera mengaktifkan sistem peringatan dini “Red Alert,” sementara militer mengumumkan bahwa mereka sedang mengevaluasi respons strategis terhadap serangan yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara.
Hezbollah, yang telah memperkuat posisi militer di perbatasan Lebanon-Israel sejak konflik meletus di Gaza pada 2023, menyatakan serangan ini sebagai bagian dari “solidaritas bersenjata” dengan kelompok-kelompok di Palestina. Namun, para analis memperingatkan bahwa eskalasi di wilayah utara bisa memicu perang dua front yang jauh lebih luas.
Pemerintah Israel, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayah sipil akan dijawab “dengan kekuatan penuh.” Sementara itu, warga Nahariya yang terkejut mulai mengungsi sementara, dan sekolah-sekolah serta tempat wisata di sepanjang pesisir ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Pertempuran di perbatasan utara kini menjadi titik paling rentan dalam konflik regional yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Dunia mengawasi dengan cemas—karena setiap ledakan di pantai ini bisa jadi awal dari badai yang jauh lebih besar.















