Sumbawanews.com,- Kunar, Afghanistan — Serangan udara oleh militer Pakistan di wilayah perbatasan Afghanistan menewaskan 13 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam serangan yang menargetkan sebuah desa di Provinsi Kunar. Insiden yang terjadi pada Kamis (10/6/2026) itu memperburuk ketegangan antara kedua negara yang telah lama berseteru atas isu perbatasan dan keberadaan kelompok bersenjata di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau.
Menurut sumber resmi di Kabul, pesawat tempur Pakistan meluncurkan serangan udara pada dini hari, menghancurkan beberapa rumah dan bangunan sederhana di desa tersebut. Para korban, yang sebagian besar adalah warga lokal yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata, ditemukan di reruntuhan bangunan. Otoritas Afghanistan mengecam serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan nasional dan menuntut pertanggungjawaban dari Islamabad.
Pakistan, sementara itu, membantah bahwa serangan itu ditujukan kepada warga sipil. Dalam pernyataan resmi, militer Pakistan menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari upaya memburu kelompok militan yang disebutnya “teroris lintas batas” yang berbasis di wilayah Afghanistan. Namun, tidak ada bukti publik yang menunjukkan keberadaan aktivitas bersenjata di lokasi yang diserang.
Kedua negara telah berulang kali saling menyalahkan atas serangan lintas batas, meski keduanya secara resmi mengklaim berkomitmen pada perdamaian. Pemerintah Afghanistan, yang dipimpin oleh Taliban sejak 2021, menilai serangan ini sebagai bagian dari strategi Pakistan untuk mempertahankan pengaruh di wilayah perbatasan yang kaya sumber daya dan strategis.
Pertikaian ini terjadi di tengah upaya diplomatik regional yang rapuh, termasuk inisiatif Pakistan untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran—sebuah peran yang kini semakin dipertanyakan akibat aksi militer yang dianggap provokatif oleh tetangganya.
PBB dan organisasi hak asasi manusia telah mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan kekerasan dan membuka saluran komunikasi yang transparan. Sementara itu, warga di wilayah perbatasan terus hidup dalam ketakutan, dengan laporan-laporan tentang pengungsian massal mulai bermunculan.
Serangan ini bukan yang pertama, tapi mungkin yang paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir. Dan bagi ribuan keluarga di Kunar, mimpi akan kedamaian kembali terkubur di bawah puing-puing rumah mereka.

















