Home Berita Internasional NATO Gelontorkan Rp2.200 Triliun, Eropa Masih Rentan

NATO Gelontorkan Rp2.200 Triliun, Eropa Masih Rentan

Sumbawanews.com,- Jakarta — Meski NATO mengalokasikan tambahan anggaran pertahanan senilai lebih dari 90 miliar dolar AS (sekitar Rp2.200 triliun) dalam setahun terakhir, kawasan Eropa justru menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Bukan karena kurang dana, tapi karena uang belum berubah menjadi kekuatan militer yang siap tempur.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengakui, lonjakan belanja pertahanan yang belum pernah terjadi ini—dari negara-negara anggota Eropa dan Kanada—hanya langkah awal. “Anda tidak bisa menghentikan rudal atau tank hanya dengan satu dolar atau satu euro,” tegas Rutte usai pertemuan para menteri pertahanan NATO, menjelang KTT aliansi yang akan digelar bulan depan.

Angka yang mencapai 139 miliar dolar AS dalam nilai nominal itu memang menjadi kenaikan terbesar dalam sejarah NATO. Namun, fokus kini bukan lagi pada jumlah anggaran, melainkan pada transformasi nyata: membangun pasukan yang lebih banyak, logistik yang lebih tangguh, dan industri pertahanan yang mampu memproduksi senjata dalam skala massal.

Perang Rusia-Ukraina yang telah memasuki tahun keempat menjadi katalis utama perubahan strategis ini. Selama puluhan tahun pasca-Perang Dingin, Eropa menikmati “dividen perdamaian”—mengurangi belanja militer dan mengalihkan dana ke sektor sosial. Kini, realitas keamanan yang berubah memaksa mereka untuk bangkit dari kenyamanan itu.

Rutte menyebut proses ini sebagai bagian dari “NATO 3.0”—transformasi terbesar dalam sejarah aliansi militer Barat itu. Bukan sekadar peningkatan anggaran, tapi perubahan struktural: memperkuat rantai pasok senjata, mempercepat inovasi teknologi pertahanan, dan membangun sinergi industri antara Amerika Utara dan Eropa.

Namun, tantangan terbesar tetaplah waktu. Produksi amunisi, perbaikan tank, pelatihan tentara, dan pengadaan sistem pertahanan udara tidak bisa dilakukan dalam hitungan bulan. Sementara ancaman dari Rusia terus berkembang—dengan modernisasi senjata, perluasan kekuatan di Arktik, dan serangan siber yang semakin canggih—Eropa berjalan di jalur yang terlalu sempit dan terlalu lambat.

NATO masih menjadi poros transatlantik yang menghubungkan Amerika dan Eropa. Tapi Rutte menegaskan: aliansi ini tidak akan bertahan jika Eropa terus bergantung pada kekuatan AS. “Kita butuh Eropa yang lebih kuat, lebih mandiri, dan siap berdiri sendiri jika diperlukan.”

Dalam dunia yang kian tidak pasti, uang bukan solusi. Kesiapanlah yang menentukan selamat atau tidak. Dan sampai saat ini, Eropa masih berada di tengah jalan—berjibaku dengan angka-angka besar, tapi belum sepenuhnya siap menghadapi perang nyata.

Previous articleBareskrim Tahan Founder Dana Syariah Terkait Proyek Fiktif
Next articleSeskab dan Kepala BNN Bahas Ancaman Narkoba Modern
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.