Home Berita Internasional Rusia Disanksi, Eropa Justru Bayar Harga Mahal

Rusia Disanksi, Eropa Justru Bayar Harga Mahal

Sumbawanews.com,- Sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi Uni Eropa dan Inggris, Caroline Bezengi, membocorkan minyak mentah Rusia di lepas pantai Oman pada akhir Juli 2026, memperlihatkan dampak tak terduga dari sanksi Barat terhadap Moskow. Insiden ini terjadi delapan hari setelah Uni Eropa mengesahkan paket sanksi ke-21 yang menambah 48 individu dan 170 entitas ke daftar pembatasan, serta memasukkan 41 kapal baru ke dalam daftar armada bayangan Rusia, sehingga total kapal yang dilarang masuk pelabuhan Eropa mencapai 673. Meski sanksi bertujuan memutus akses Rusia terhadap pasar, teknologi, dan jasa pelayaran Barat, biaya dan risikonya justru menyebar ke industri Eropa dan negara-negara netral. Citra satelit pada 28 Juli menunjukkan lapisan minyak gelap di sekitar kapal dan bercak lebih ringan di utara Pulau al-Qibliyyah, sebuah kawasan laut yang dilindungi. Kapal itu sebelumnya memuat minyak Rusia di Pelabuhan Novorossiysk, Laut Hitam, dan melaporkan kerusakan pertama kali di dekat Mukalla, Yaman, pada 8 Juni, dengan indikasi ledakan di atas lambung—meski penyebabnya belum dikonfirmasi. Organisasi Maritim Internasional menyatakan kapal belum pecah, tetapi risiko lingkungan tetap tinggi, terutama mengingat musim monsun yang memperluas penyebaran tumpahan.

Kerugian paling signifikan bagi Rusia adalah penyusutan pasar energi Eropa: pangsa gas Rusia dalam impor Uni Eropa anjlok dari 45 persen pada 2021 menjadi 12 persen pada 2025, dengan volume impor turun dari 152 miliar meter kubik menjadi 36 miliar meter kubik. Pangsa minyak Rusia juga turun dari 27 persen di awal 2022 menjadi hanya 2 persen pada 2025, meski Uni Eropa masih mengimpor 9,7 juta ton minyak mentah Rusia tahun lalu. Batu bara Rusia telah sepenuhnya dihapus dari bauran energi Eropa. Namun, sanksi yang semakin ketat justru mendorong perdagangan minyak Rusia beralih ke operator dan perantara di luar Barat, sementara perusahaan pelayaran Eropa kehilangan kontrak, petani menghadapi kenaikan harga pupuk, dan Eropa terpaksa membayar biaya besar untuk mengganti pasokan energi dan merestrukturisasi industri.

Previous articleAncaman Boikot Global Paksa FIFA Batalkan Rencana Komersialisasi Piala Dunia
Next articleVinFast Perkenalkan Ekosistem Kendaraan Listrik Komprehensif di GIIAS 2026