Sumbawanews.com,- Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menyatakan keyakinan kuat bahwa kemerdekaan Palestina tak lagi sekadar harapan, melainkan proses yang sedang berjalan dengan kecepatan yang tak terbendung. Menurutnya, konflik di Gaza bukan lagi persoalan territorial antara dua pihak, tapi perang antara kemanusiaan dan kekejaman yang telah membangkitkan kesadaran global.
“Saya yakin, kemerdekaan Palestina jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan,” ujar Anis dalam wawancara eksklusif. Ia menekankan bahwa apa yang terjadi di Gaza sejak 2023 bukan sekadar operasi militer, melainkan genosida nyata yang telah mengguncang hati nurani umat manusia di seluruh penjuru dunia.
Bukan lagi hanya rakyat Palestina yang berjuang—tapi jutaan orang di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang turun ke jalan, mengirim bantuan kemanusiaan lewat armada Global Flotilla, dan menuntut keadilan melalui media, hukum internasional, dan tekanan diplomatik. “Israel bukan lagi melawan sebuah bangsa. Ia melawan seluruh manusia yang percaya pada hak hidup, martabat, dan kebebasan,” tegas Anis.
Ia menilai bahwa setiap serangan udara, setiap penghancuran rumah sakit, setiap anak yang kehilangan keluarganya di Gaza justru semakin menggerus legitimasi moral Israel di mata dunia. “Basis moral yang dulu menjadi alasan berdirinya negara itu—perlindungan terhadap korban Holocaust—kini runtuh karena menjadi alat penindasan terhadap korban lain,” paparnya.
Anis juga menyoroti peran aktif masyarakat sipil yang tak lagi menunggu pemerintah bertindak. Gerakan solidaritas dari mahasiswa di London, buruh di Jakarta, aktivis di São Paulo, hingga artis di Barcelona yang mengibarkan bendera Palestina di atas podium juara—semua ini, menurutnya, adalah tanda bahwa narasi global telah berubah. Isu Palestina kini bukan lagi isu Timur Tengah, tapi isu kemanusiaan universal.
Dengan kehancuran infrastruktur yang tak terhitung jumlahnya dan lebih dari dua juta warga yang terusir dari rumah mereka, Anis menegaskan bahwa kekuatan militer Israel tak mampu memadamkan api perlawanan moral yang kian membesar. “Ketika dunia mulai melihat kebenaran, maka kekuatan senjata tak lagi menentukan sejarah. Yang menentukan adalah kebenaran yang tak bisa dibungkam.”
Bagi Anis, titik baliknya bukan pada perjanjian atau resolusi PBB—tapi pada kesadaran manusia biasa yang memilih untuk tidak diam. “Kemerdekaan Palestina bukan hadiah dari dunia. Ia adalah hak yang akan direbut kembali oleh sejarah—karena kebenaran tak pernah mati, hanya ditunda.”















