Home Berita Internasional Jerman Gagal Masuk DK PBB, Dikaitkan dengan Sikap Pro-Israel

Jerman Gagal Masuk DK PBB, Dikaitkan dengan Sikap Pro-Israel

Sumbawanews.com,- New York – Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Jerman gagal meraih kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Dalam pemungutan suara di Majelis Umum pada Rabu (4/6/2026), negara itu hanya memperoleh 104 suara — 23 suara di bawah ambang batas dua pertiga yang diperlukan untuk terpilih. Kekalahan ini mengalahkan dua kandidat saingannya, Austria dan Portugal, yang keduanya berhasil mendapatkan dukungan cukup untuk memperoleh kursi selama dua tahun ke depan.

Kegagalan ini menjadi gejala tak terduga dari tekanan diplomasi global terhadap kebijakan luar negeri Jerman yang semakin dipandang sebagai terlalu sepihak. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul secara terbuka mengakui bahwa sikap Berlin yang konsisten mendukung Israel dalam konflik Gaza mungkin menjadi faktor penentu. “Fakta bahwa Jerman harus selalu memikul tanggung jawab khusus terhadap Israel — akibat sejarah Holocaust — mungkin telah mengurangi suara kami di banyak negara,” ujarnya kepada wartawan di New York.

Pernyataan itu mengungkapkan ketegangan mendalam antara komitmen sejarah Jerman terhadap Israel dan tekanan politik global yang semakin mendukung hak-hak Palestina. Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, Jerman tidak hanya mempertahankan dukungan politik dan militer kepada Israel, tetapi juga menindak keras protes pro-Palestina di dalam negeri, termasuk deportasi aktivis dan pembatasan simbol-simbol solidaritas seperti segitiga merah terbalik — yang dianggap sebagai simbol perlawanan.

Kritik pun bermunculan dari dalam negeri. Alice Weidel, pemimpin partai sayap kanan AfD, menyebut kekalahan ini sebagai “aib nasional”, sementara Adis Ahmetovic dari Partai Sosial Demokrat menilainya sebagai “indikator jelas bagaimana dunia memandang posisi Jerman”. Di tengah upaya Kanselir Friedrich Merz untuk memulihkan pengaruh Jerman di panggung internasional, kegagalan ini justru memperlihatkan krisis legitimasi diplomasi yang semakin terasa.

Wadephul juga menyebut dukungan Jerman terhadap Ukraina sebagai faktor yang memperkeruh posisinya, karena Rusia secara aktif berupaya menggagalkan pencalonan Berlin. Namun, analisis diplomatik menunjukkan bahwa meski Ukraina menjadi isu penting, fokus utama penolakan justru datang dari negara-negara Afrika, Asia, dan Dunia Ketiga yang merasa Jerman mengabaikan kemanusiaan di Gaza.

Ini adalah kali pertama Jerman gagal memperoleh kursi DK PBB dalam lebih dari empat dekade. Sejak 1970-an, negara itu secara rutin mendapatkan satu dari dua kursi Eropa Barat setiap delapan tahun. Kini, kegagalan ini bukan hanya soal suara, tapi soal kepercayaan — bahwa sebuah negara yang mengklaim sebagai pemimpin moral Eropa ternyata kehilangan daya tariknya di mata dunia yang sedang berubah.

Dengan kekalahan ini, Jerman kini harus mempertimbangkan ulang strategi diplomasi globalnya — bukan hanya untuk kembali ke DK PBB, tapi untuk membangun kembali kredibilitasnya sebagai aktor yang seimbang, bukan sekadar mitra setia.

Previous articleRp366,7 Miliar Alirannya, Wamen Imipas Tersangka Pemerasan
Next articleKepuasan Publik terhadap MBG Masih Tergantung pada Distribusi
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.